Keutamaan Puasa Asyura dan Mitos Bulan Muharram ( Suro)

Mitos Bulan Suro ….

Kalau kita lihat sudah berapa ribu orang meninggal akibat mengendarai motor? Mungkin sudah jutaan ya, belum yang cacat sementara atau cacat permanen disebabkan mengendarai motor…

Anehnya, mengapa tidak ada satupun orang yang kemudian bersi keras menyatakan, JANGAN SEKALI KALI KAMU NAIK MOTOR nanti kamu sial / mati / cacat permanen? ada ndak?

Orang akan berpikir, ya wajar, namanya sudah ada qada dan qadar, sampai orang jalan ditrotoar (DIA NGGAK MENGENDARAI MOTOR) aja bisa celaka sebab tertabrak motor.  Orang akan berujar, “Iya, wajar, memang sudah waktunya celaka / ajalnya datang, untung tak dapat di tarik, sial tak dapat di hindar”….

Namun ada apa dengan bulan Suro?
Mengapa sedemikian tak beraninya sebagian orang membuat hajat di dalamnya? melakukan safat dipantang, acara nikahan nggak boleh, serta banyak pantangan lainnya.

Sebagian berujar, ah kamu nggak ngenal budaya. itu ora ilok. bulan suro ndak baik buat hajatan karena nanti datangkan sial. Lalu dibumbui cerita yang kemudian sy analogikan balik dengan kisah motor di atas.

Apa karena pernah terjadi orang bikin hajatan dibulan suro ini terjadi hal hal yang tidak di inginkan lalu pukul rata, Ini berarti bulan sial? Apa tidak ada orang yang bikin hajat di bulan lain, lalu tetap juga terjadi musibah di dalamnya? Banyakan mana yang bikin acara terjadi musibah, di dalam bulan suro atau selainnya?

Apa karena ada yang nikah di bulan suro lalu cerai, itu pertanda kalau nikah dibulan suro bisa dipastikan exactly bakal cerai? Padahal bukankah lebih banyak orang bercerai itu nikahnya TIDAK DI BULAN SURO?

Padahal, masya Allah, bulan suro atau yang dikenal dalam islam bulan muharram ini adalah bulan yang mulia. Bukankah dibulan mulia ini Allah beri kemenangan kepada musa alaihisalam atas perjuangannya menghadapi fir’aun?

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Madinah, sementara orang-orang yahudi berpuasa Asyura’. Mereka mengatakan: Ini adalah hari di mana Musa menang melawan Fir’aun. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat: “Kalian lebih berhak terhadap Musa dari pada mereka (orang yahudi), karena itu berpuasalah.” (HR. Al Bukhari)

Bukankah bulan ini justru bulan yang berkah, dimana kita berpuasa pada hari tertentu di dalamnya terhapus dosa satu tahun yang telah lewat?
Dari Abu Qatadah Al Anshari radliallahu ‘anhu, beliau mengatakan:

سئل عن صوم يوم عاشوراء فقال كفارة سنة

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa Asyura’, kemudian beliau menjawab: “Puasa Asyura’ menjadi penebus dosa setahun yang telah lewat.” (HR. Muslim dan Ahmad).

Maka, simpulannya apa. Pelajarilah agama dengan mendalam,perbaiki aqidah kita. Paham islam bikin hidup lebih tentram kog, nggak perlu takut was was akan ada ini itu sebab keyakinan dan mitos yang nggak valid gitu gitu.

Gimana pendapat temen temen?🙂

====

Tambahan dikit, kaidah menjalankan Puasa Asyura’

Ibnul Qayim menjelaskan bahwa puasa terkait hari Asyura ada tiga tingkatan:

  1. Tingkatan paling sempurna, puasa tiga hari. Sehari sebelum Asyura, hari Asyura, dan sehari setelahnya.
  2. Tingkatan kedua, puasa tanggal 9 dan tanggal 10 Muharram. Ini berdasarkan banyak hadis.
  3. Tingkatan ketiga, puasa tanggal 10 saja.

(Zadul Ma’ad, 2/72)

Bolehkah puasa tanggal 10 saja?

 

Sebagian ulama berpendapat, puasa tanggal 10 saja hukumnya makruh. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berencana untuk puasa tanggal 9, di tahun berikutnya, dengan tujuan menyelisihi model puasa orang yahudi. Ini merupakan pendapat Syaikh Ibn Baz rahimahullah.

Sementara itu, ulama yang lain berpendapat bahwa melakukan puasa tanggal 10 saja tidak makruh. Akan tetapi yang lebih baik, diiringi dengan puasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, dalam rangka melaksanakan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam majmu’ fatawa, Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya, Bolehkah puasa tanggal 10 Muharam saja, tanpa puasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya. Mengingat ada sebagian orang yang mengatakan bahwa hukum makruh untuk puasa tanggal 10 muharram telah hilang, disebabkan pada saat ini, orang yahudi dan nasrani tidak lagi melakukan puasa tanggal 10.

Beliau menjawab, Makruhnya puasa pada tanggal 10 saja, bukanlah pendapat yang disepakati para ulama. Diantara mereka ada yang berpendapat tidak makruh melakukan puasa tanggal 10 saja, namun sebaiknya dia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. Dan puasa tanggal 9 lebih baik dari pada puasa tanggal 11. Maksudnya, yang lebih baik, dia berpuasa sehari sebelumnya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Jika saya masih hidup tahun depan, saya akan puasa tanggal sembilan (muharram).” maksud beliau adalah puasa tanggal 9 dan 10 muharram….. Pendapat yang lebih kuat, melaksanakan puasa tanggal 10 saja hukumnya tidak makruh. Akan tetapi yang lebih baik adalah diiringi puasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. (Majmu’ Fatawa Ibn Utsaimin, 20/42)

Komentar yang Sesuai dengan Topik Menggunakan Bahasa Sopan, Kami sangat Hargai.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s