‘Bahaya Terpendam’ dalam tulisan Membumikan Al-Qur’an Pak Quraisy Syihab

Belum usang dalam ingatan mengenai indikasi keterlibatan beliau dalam ajaran syiah, sudah ada pembahasan lagi kritik kepada Pak Quraisy Syihab. Nah, malam ini saya baca baca status temen, ada yang mensharekan mengenai TELAAH KRITIS TERHADAP BUKU : MEMBUMIKAN AL-QUR’AN yang ditulis oleh Prof. Dr. Muhammad Quraisy Syihab, M.A. Buku itu merupakan salah satu buku yang laris.

Mari detailnya kita cermati pada uraian berikut:

Kami hadirkan kembali tulisan yang pernah kami muat diblog ini pada 11-02-2009 yang kami salin dari :
■ Majalah Al-Furqon Edisi 07 Tahun ke- 8 1430 H
■ Rubrik : Kitab
■ Penulis : Ust. Abu Ahmad As-Salafi -hafizhahulloh-.
Semoga bermanfaat bagi kaum muslimin.
.
Telaah Kritis Terhadap Buku: Membumikan Al-Qur’an
————————————————————————
Buku Membumikan Al-Qur’an, Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat adalah :
▬ sebuah buku populer
▬▬ yang pernah mendapatkan predikat best seller.
Ia berasal dari enam puluh lebih makalah dan ceramah yang pernah disampaikan oleh penulisnya pada rentang waktu 1975 hingga 1992.
Buku ini terbagi menjadi dua bagian;
—————————————————
Yang pertama adalah :
▬ gagasan al-Qur’an
▬▬ yang merupakan penjelasan pokok-pokok memahami al-Qur’an
Dan yang kedua adalah :
▬ amalan al-Qur’an
▬▬ yang menggambarkan tentang solusi problem-problem masyarakat dengan berpijak pada pemahaman al-Qur’an.
Hanya, setelah kami telaah buku ini,ternyata di dalamnya terdapat syubhat-syubhat yang :
▬ membahayakan aqidah
▬▬ dan pemahaman seorang muslim.
Karena itulah, insya Allah dalam pembahasan kali ini kami berusaha melakukan telaah kritis terhadap buku ini untuk memenuhi permintaan sebagian pembaca AL-FURQON yang meminta kami untuk membahas buku ini dan sekaligus sebagai nasihat kepada kaum muslimin secara umum.

Penulis dan Penerbit Buku Ini
—————————————
■Buku ini ditulis oleh Prof. Dr. Muhammad Quraisy Syihab, M.A.
■dan diterbitkan oleh Penerbit Mizan Bandung
■Edisi Baru cetakan pertama Juli 2007/Rajab 1428.
.
Kitab-Kitab Aqidah Tidak Relevan Dengan Kondisi Masa Kini?!
————————————————————————————
Penulis berkata dalam him. 289:
■■Secara umum, para ahli keislaman mengakui bahwa rnateri-materi yang ditemukan di dalam berbagai kitab aqidah (teologi) tidak sepenuhnya lagi relevan dengan kondisi masakini. Materi-materi tersebut diambil oleh generasi demi generasi. Sedangkan penulisannya pertama kali dipengaruhi oleh situasi sosial politik ketika itu.
Kemudian penulis menyebutkan rujukannya dalam masalah ini kepada tokoh-tokoh rasionalis: Abdul Halim Mahmud dalam kitabnya al-Islam wal ‘Aql, Mahmud Syaltut dalam kitabnya al-Islam Aqidah wa Syari’ah, dan Muhammad al-Ghazali dalam Aqidah al-Muslim.
Kami katakan:
▬▬▬▬▬▬
Perkataan penulis di atas senada dengan perkataan Muhammad Surur (Manhajul Anbiya’ Fid Da’wah Ilalloh 118):
■■“Aku melihat kitab-kitab aqidah, ternyata kitab¬kitab itu ditulis bukan pada zaman kita. Kitab-kitab itu adalah solusi bagi permasalahan-permasalahan yang terjadi di saat kitab-kitab itu ditulis, sedangkan zaman kita sekarang ini membutuhkan solusi-solusi yang baru. Gaya bahasa kitab-kitab aqidah banyak yang kering karena hanya terdiri dari nash-nash dan hukum-hukum….”
.
▉Syaikh Sholih bin Fauzan al-Fauzan telah membantah syubhat di atas. Beliau mengatakan (Ajwibah Mufidah ‘An As’ilatil Manahijil Jadidah him. 55-56):
“Orang ini -Muhammad Surur- hendak menyesatkan para pemuda Islam dengan perkataannya ini, memalingkan mereka dari kitab-kitab aqidah yang shohihah dan dari kitab-kitab salaf. Dia mengarahkan para pemuda Islam kepada pemikiran-pemikiran baru dan kitab-kitab baru yang mengandung syubhat-syubhat. Kitab-kitab aqidah, kelemahannya menurut Muhammad Surur adalah karena terdiri atas nash-nash dan hukum-hukum, di dalamnya terdapat perkataan Allah dan perkataan Rosululloh , sedangkan dia menginginkan pemikiran fulan dan fulan, dan tidak ingin nash-nash dan hukum-hukum. Oleh sebab itu, wajib atas kalian-kaum muslimin mewaspadai selundupan-selundupan pemikiran yang batil ini yang bertujuan memalingkan para pemuda kita dari kitab-kitab salaf kita yang sholih.
Alhamdulillah, kita telah merasa cukup dengan peninggalan-peninggalan salafush sholih seperti kitab-kitab aqidah dan kitab-kitab dakwah, bukan dengan gaya bahasa yang kering -seperti yang disangka Muhammad Surur- melainkan dengan gaya bahasa yang ilmiah dari Kitabulloh dan sunnah Rosul-Nya seperti Shohih al-Bukhori, Shohih Muslim, dan kitab-kitab hadits yang lainnya, kemudian kitab-kitab Sunnah, seperti kitab as-Sunnah oleh lbnu Abi Ashim, asy-Syari’ah oleh al-Ajuri, as-Sunnah oleh Abdulloh bin Imam Ahmad, kitab-kitab Syaikhul Islam lbnu Taimiyyah dan muridnya, Ibnul Qayyim, dan kitab-kitab Syaikhul Islam al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab. Wajib atas kalian mengambil dari kitab-kitab ini. Maka aqidah tidak boleh diambil kecuali dari nash-nash Kitab dan Sunnah, bukan dari pemikiran fulan dan allan.”
.
Penganut Trinitas Tidak Kafir?
——————————————
Penulis berkata dalam him. 290:
Tentang hukuman kafir bagi penganut ajaran Trinitas dan hukuman Karam bagi wanita muslim yang kawin dengan wanita kafir, merupakan hal¬hal yang perlu disajikan kepada anak didik. Hanya saja, penyajian tersebut hendaknya dikaitkan dengan penjelasan bahwa penganut ajaran Trinitas tidak disebut “kafir” bleb AI-Qur’an melainkan disebut “Ahfi AI-Kitab” …
.
Kami katakan:
▬▬▬▬▬▬
Bagaimana dikatakan bahwa penganut ajaran Trinitas tidak disebut “kafir” oleh al-Qur’an padahal Alloh telah berfirman dalam Kitab-Nya:
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam”, padahal al-Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, ibadahilah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (Sesuatu dengan) Allah, maka pasti Alloh mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Alloh salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (QS. al-Ma’idah [5]: 72-73)
Imam Ibnu Katsir –rahimahulloh- berkata:
‘Alloh Ta’ala berfirman menghikayatkan tentang pengkafiran kelompok-kelompok dari Nasrani: Malakiyyah, Ya’qubiyyah, dan Nusthuriyyah, dari mereka yang mengatakan bahwa al .Masih adalah Alloh Ta’ala.” (Tafsir Ibnu Katsir: 2/151)
.
Perempuan Boleh Berpolitik Praktis ?
————————————————
Penulis berkata di dalam hlm. 435 da’i bukunya ini:
—• Tentunya masih banyak lagi yang dapat dikemukakan menyangkut hak-hak kaum perempuan dalam berbagai bidang. Namun kesimpulan akhir yang dapat ditarik bahwa mereka sebagaimana sabda Rasul adalah Syaqaiq Ar-Rijal (saudara-saudara sekandung kaum lelaki) sehingga kedudukannya serta hak-haknya hampir dikatakan sama.
Di antara contoh hak-hak perempuan yang dikatakan sama oleh penulis dengan hak laki-laki adalah hak berpolitik praktis sebagaimana dia katakan dalam him. 426:
—• Di sisi lain, Al-Qur’an juga mengajak umatnya (lelaki dan perempuan) untuk bermusyawarah, melalui pujian Tuhan kepada mereka yang selafu melakukannya: “Urusan mereka (selalu) diputus¬kan dengan musyawarah” (QS 42: 38).
—• Ayat ini dijadikan pula dasar oleh banyak ulama untuk membuktikan adanya hak berpolitik bagi setiap lelaki dan perempuan Kenyataan sejarah menunjukkan sekian banyak di antara kaum wanita yang terlibat di dalam soal-soal politik praktis.
.
Kami katakan:
▬▬▬▬▬▬
Hadits wanita adalah syaqo’iq ar-rijal (saudara¬saudara sekandung kaum lelaki) adalah hadits yang shohih diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunan-nya: 237 dan dishohihkan Syaikh al-Albani dalam Shohih Sunan Abu Dawud: 1/72.
Maksud hadits tersebut, bahwa wanita itu sama hukumnya dengan laki-laki baik dalam masalah perintah dan larangan, pahala dan dosa, serta yang lainnya.
Namun, yang harus disadari, bahwa :
▬ Alloh dan Rosul-Nya telah membedakan antara keduanya dalam beberapa masalah
▬▬ karena Bagaimana pun juga wanita itu bukan laki-laki,
sebagaimana dalam firman Alloh :
..dan laki-laki tidaklah seperti perempuan…. (QS. Ali Imron [3]: 36)
.
■Syaikh Musthofa al-’Adawi –rahimahulloh- berkata:
“Hadits di atas berlaku secara umum bagi setiap masalah yang tidak terdapat nash yang membedakan antara laki-laki dengan wanita. Adapun kalau didapatkan sebuah nash yang membedakan antara laki-laki dan wanita maka wajib tunduk pada nash tersebut dan memberikan hukum tersendiri bagi wanita dan begitu pula hukum tersendiri bagi laki-laki. Suatu misal, jangan ada seorang pun yang berkata bahwa persaksian seorang wanita sama dengan persaksian laki-laki berdasarkan hadits di atas, ini adalah pendapat yang sangat mungkar dan kedustaan. Jangan sampai ada yang mengatakan bahwa seorang wanita memiliki hak kepemimpinan sebagaimana seorang laki-laki, ini adalah pendapat yang dusta dan batil. Sungguh Alloh telah berfirman:
Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita…. (QS. an-Visa` [4]: 34)
Juga, jangan ada seorang pun yang berpendapat bahwa warisan wanita sama dengan warisan laki-laki. Ini adalah sebuah kesalahan yang nyata.” (Jami’ Ahkamin Nisa’ : 1/12)
.
Islam telah memuliakan wanita, menjaga hak-haknya, dan mengarahkannya kepada perkara-perkara yang mengantarkan mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhiratnya. Islam memerintah wanita agar berhijab dari laki-laki yang bukan mahrom dan menjauh dari ikhtilath (campur baur) dengan laki-laki. Wanita dilarang melakukan safar (perjalanan jauh) kecuali bersama mahromnya dan dilarang berkholwat (berduaan) dengan laki-laki yang bukan mahrom sebagaimana dalam hadits-hadits yang shohih dari Rosululloh . Alloh berfirman tentang wajibnya para wanita berhijab dari laki-laki yang bukan mahrom:
…. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka…. (QS. al-Ahzab [33]: 53)
Dan Allah berfirman:
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jiibabnya ke seluruh tubuh mereka” …. (QS. al-Ahzab [33]: 59)
Ayat di atas menunjukkan bahwa hukum hijab berlaku umum bagi Ummahatul Mukminin dan para wanita mukminat.
Adapun tentang masalah ikhtilath (campur baur) antara laki-laki dan wanita, Alloh berfirman ketika mengisahkan Nabi-Nya, Musa :
Dan tatkala ia (Musa) sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah rnaksudmu (dengan berbuat begitu)? ” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak karni) sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.” Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya…. (QS. al-Qoshosh [28]: 23-24)
■Imam Ibnul Qoyyim –rahimahulloh- : berkata:
“Tidak syak lagi bahwa memberikan kesempatan bagi para wanita untuk bercampur baur dengan para lelaki adalah sumber semua bencana dan kejelekan. la adalah sebab terbesar dari turunnya adzab yang merata sebagaimana ia adalah sebab kerusakan perkara-perkara umum dan khusus. Bercampurbaurnya laki-laki dan wanita adalah sebab banyaknya perbuatan-perbuatan keji dan perzinaan.” (Thuruq Hukmiyyah him. 281)
Membolehkan wanita berpolitik praktis akan merenggut wanita dari sebab-sebab kemuliaan dan mencampakkannya ke dalam jurang-jurang kehinaan karena dia diberi kebebasan sebebas-bebasnya, bepergian ke mana pun yang dia mau tanpa disertai mahrom, bercampur baur dengan laki-laki mana pun yang dia mau dan berbuat sekehendaknya tanpa ada yang menjaga dan mengawasinva!
.
Selamat Natal Menurut al-Qur’an
———————————————
Penulis (Quraisy Syihab), dalam hlm. 579-580, membawakan Surat Maryam ayat 23-30 kemudian mengatakan:
Itu cuplikan kisah Natal dari Al-Qur’an. Dengan demikian, AI-Qur’an mengabadikan dan merestui ucapan selamat Natal pertama dari dan untuk Nabi mulia itu, Isa Alaihi Salam.
Kemudian penulis berkata dalam hlm. 583:
Tidak kelirulah, dalam kacamata ini, fatwa dan larangan (ucapan ” Selamat Natal ‘) itu, bila ia ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan ternodai akidahnya. Tidak juga salah mereka yang membolehkannya, selama pengucapnya bersikap arif bijaksana dan tetap terpelihara aqidahnya, lebih-lebih jika hal tersebut merupakan tuntutan keharmonisan hubungan.
Di akhir bahasan dalam hlm. 584 penulis mengamal-kan apa yang dia serukan untuk mengucapkan selamat Natal :
Salam sejahtera semoga tercurah kepada beliau, pada hari Natalnya, hari wafat, dan hari kebangkitannya nanti.
.
Kami katakan:
▬▬▬▬▬▬
(Ust. Abu Ahmad As-Salafi -hafizhahulloh- )
Di antara pokok-pokok aqidah Islam adalah :
▬ wajibnya memberikan wala’ (loyalitas) kepada setiap muslirn
▬ dan baro’ (membenci dan memusuhi) orang-orang kafir,
▬ wajib memberikan wala’ kepada orang-orang yang bertauhid
▬ dan baro’ terhadap orang-orang musyrik.
Inilah agama Ibrahim yang kita semua diperintah Alloh agar mengikutinya.
Alloh berfirman (yang artinya):
Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat se-lama-lamanya sampai kamu beriman kepada ALLAH SAJA”.. (QS. al-Mumtahanah [60]: 4)
Allah mengharamkan wala’ kepada orang-orang kafir semuanya sebagaimana dalam firman-Nya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-tenaan setia…. (QS. al-Mumtahanah [60]: 1)
Di antara hentuk-bentuk wala’ kepada orang-orang kafir yang diharamkan adalah :
▬ ikut serta dalam peringatan-peringatan hari raya orang-orang kafir
▬ atau membantu pelaksanaannya
▬ atau menyampaikan ucapan selamat hari raya kepada mereka
▬ atau menghadirinya.
(Lihat al-Wala’ wal Baro’ kar. Syaikh Sholih al-Fauzan him. 3-13)
.
MUI di dalam fatwanya :
———————————
▬ tertanggal 1 jumadil Awal 1401 H/7 Maret 1981
▬▬ memutuskan bahwa mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram. (Sumber: situs resmi Majelis Ulama Indonesia www.mui.or.id)
.
Lajnah Da`imah Saudi Arabia di dalam fatwanya (no. 11168) menyatakan:
—————————————————————————————————
“Tidak boleh seorang muslim memberi ucapan selamat kepada orang Nasrani pada hari raya mereka karena hal itu berarti tolung-menolong di dalam dosa. Sungguh Alloh telah melarang kita dari hal itu
..dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…. (QS. al-Ma`idah [5]: 2)
Sebagaimana di dalam ucapan selamat itu terdapat :
▬ kasih sayang kepada mereka,
▬ menuntut kecintaan
▬ serta menampakkan keridhoan kepada mereka,
padahal mereka :
▬ selalu menentang Alloh
▬▬ dan menyekutukan-Nva dengan selain-Nya, menjadikan bagi-Nya istri dan anak,
Alloh berfirman (yang artinya):
Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. (QS. al-Mu jadilah [58]: 22).”
Penutup
▬▬▬▬
Demikianlah di antara hal-hal yang bisa kami paparkan dari :
▬ sebagian penjelasan terhadap sebagian syubhat-syubhat buku ini.
▬▬ Sebetulnya masih banyak hal lainnya yang belum kami bahas mengingat keterbatasan tempat.
Semoga yang kami paparkan di atas bisa menjadi :
▬ pelita bagi kita dari kesamaran syubhat-syubhat tersebut
▬▬ dan semoga Allah selalu menunjukkan kita ke jalanNya yang lurus dan dijauhkan dari semua jalan-jalan kesesatan.
Aamiin. Wallohu A’lam bish showab.
[Disalin dari : Majalah Al-Furqon Edisi 07 Tahun ke- 8 1430 H – Rubrik : Kitab – Penulis : Ust. Abu Ahmad As-Salafi -hafizhahulloh-]

Komentar yang Sesuai dengan Topik Menggunakan Bahasa Sopan, Kami sangat Hargai.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s