Download Video Lengkap Debat Aswaja dan Wahabi di Hang FM Batam

Teman teman yang mau mendownload materi lengkap ceramah apa yang terjadi sesungguhnya pas dialog ASWAJA dan WAHABI “dalam bahasa sebagian kita” silakan merujuk ke bawah ini. Ada Download Video Lengkap Debat Aswaja dan Wahabi di Hang FM Batam yang terjadi pada Sabtu, 28 Desember 2013. Bisa anda download  atau pun langsung menstelnya.  Miror downloadnya yang lain bisa akses di http://www.mediafire.com/?6i1g11l27d13xg9. Filenya cukup besar 382 MB.

Lalu mengapa bumi islam sengaja memuat video diatas? sebab muncul berita yang miris dan menyesatkan di internet oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab serta memutar balikan fakta. Semoga yang punya hati bersih, bisa menyimak detail video bukti rekamannya. Agar terang, siapa yang jujur dan sebaiknya diambil ilmunya, mana yang sudah berdusta dan tidak disarankan belajar ilmu darinya.

Salah satu informasi yang keliru yang sudah beredar antara lain dari akun facebook yang menamakan ustad ramly:
 
CATATAN TERHADAP DEBAT TERBUKA DENGAN WAHABI
Di KEMENAG Kota Batam, 28 Desember 2013
1. Dalam dialog tersebut, perwakilan dari Ahlussunnah Wal-Jama’ah sebagai pembicara, hanya al-faqir Muhammad Idrus Ramli. Sedangkan Kiai Thobari Syadzili, hanya menemani duduk, tidak diberi waktu berbicara, kecuali 1 menit menjelang acara dihentikan. Sementara dari pihak Radio Hang atau Wahabi, adalah Ustadz Zaenal Abidin dan Ustadz Firanda Andirja. Isu-isu dari kaum Wahabi, bahwa perwakilan dari Ahlussunnah adalah saya dan beberapa orang, adalah tidak benar. Jadi yang benar, debat 1 orang lawan 2 orang.
2. Dalam acara dialog tersebut, semua pembicara dibatasi oleh waktu. Karenanya mungkin banyak pembicaraan Wahabi yang tidak sempat kami tanggapi, dan sebaliknya.
3. Dalam pengantar dialognya, Ustadz Zaenal Abidin Lc, yang mewakili pihak Wahabi, mengaku sebagai warga NU (Nahdlatul Ulama) tulen. Padahal selama ini, dalam ceramah-ceramahnya ia selalu membid’ahkan amalian warga NU. Dan ternyata, dalam dialog tersebut, Zaenal Abidin, tidak bisa menyembunyikan jatidirinya yang Wahabi. Ia menyalahkan ajaran NU seperti menerima bid’ah hasanah, melafalkan niat dalam ibadah, qunut shubuh, tahlilan (kendurenan tujuh hari), Yasinan dan Yasin Fadhilah. Silahkan pemirsa menilai sendiri dengan hati nurani. Zaenal mengaku warga NU tulen, tetapi menyalahkan semua amaliah NU.
4. Delegasi dari Wahabi, Zaenal maupun Firanda, tidak menaruh hormat kepada pendapat para ulama besar sekaliber Imam Ahmad bin Hanbal, Imam an-Nawawi, al-Hafizh Ibnu Hajar dan lain-lain. Misalnya dalam bahasan bid’ah hasanah, saya mengutip pendapat Imam an-Nawawi yang menjelaskan bahwa hadits kullu bid’atin dhalalah, dibatasi dengan hadits man sanna sunnatan hasanatan. Firanda tidak menghargai pendapat Imam an-Nawawi tersebut, dan memilih berpendapat sendiri. Padahal dia, masih belum layak memiliki pendapat sendiri. Bahkan memahami karya para ulama juga sering keliru. Pembaca dan pemirsa tentu tahu, bahwa ciri khas kaum liberal atau JIL adalah menolak otoritas ulama.
5. Zaenal dan Firanda menggunakan standar ganda dalam menilai pendapat para ulama. Ketika pendapat mereka sesuai dengan semangatnya, mereka mati-matian menyerang tradisi NU, seperti dalam kasus tradisi kenduri kematian selama 7 hari, yang dihukumi makruh dalam kitab-kitab Syafi’iyah. Seakan-akan mereka lebih Syafi’iyah dari pada warga NU. Akan tetapi ketika pendapat para ulama tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka, Firanda dan Zaenal menganggap pendapat tersebut tidak ada apa-apanya. Seperti dalam bahasan bid’ah hasanah. Sikap mendua seperti ini, mirip sekali dengan kebiasaan orang Syiah. Ketika hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim sesuai dengan keinginan Syiah, mereka jadikan hujjah. Akan tetapi ketika hadits-hadits tersebut berbeda dengan hawa nafsu Syiah, mereka tolak dan mereka dustakan.
6. Dalam bahasan qunut shubuh, Firanda melakukan kesalahan ilmiah ketika mengomentari tanggapan saya terhadap hadits Abi Malik al-Asyja’i. Sebagaimana dimaklumi, dalam riwayat al-Tirmidzi, an-Nasa’i, Musnad Ahmad dan Ibnu Hibban, Abu Malik al-Asyja’i menafikan qunut secara mutlak, baik qunut nazilah maupun qunut shubuh. Tetapi Firanda mengatakan bahwa dalam kitab-kitab hadits, hadits Abu Malik al-Asyja’i menggunakan redaksi yaqnutun fil fajri (qunut shalat shubuh). Ternyata setelah kami periksa dalam kitab-kitab hadits, kalimat fil fajri tidak ada dalam riwayat-riwayat tersebut. Silahkan diperiksa dalam Sunan al-Tirmidzi juz juz 2 hal. 252 (tahqiq Ahmad Syakir), Sunan al-Kubra lin-Nasa’i, juz 1 hal. 341 tahqiq at-Turki atau al-Mujtaba lin-Nasa’i juz 2 hal. 304 tahqiq Abu Ghuddah.
7. Firanda memaksakan diri mengatakan bahwa hukum kenduri kematian selama tujuh hari menurut Syafi’iyah adalah makruh tahrim. Padahal dalam kitab-kitab Syafi’iyah, hukumnya adalah bid’ah yang makruh dan tidak mustahabbah, alias bukan makruh tahrim. Untuk menguatkan pandangannya, Firanda mengutip pernyataan Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari, dalam Asna al-Mathalib, yang berkata “wa hadza zhahirun fit tahrim”. Ternyata setelah kami periksa, Syaikhul Islam Zakariya, masih menghukumi kenduri kematian dengan makruh atau bid’ah yang tidak mustahab (tidak sunnah). Sedangkan keharaman yang menjadi makna zhahir hadits tersebut, oleh beliau dialihkan kepada bukan tahrim. Hal ini dapat dipahami, ketika membaca dengan seksama, bahwa Syaikhul Islam Zakariya dalam pernyataan tersebut, mengutip dari Imam an-Nawawi dalam Raudhah al-Thalibin dan al-Majmu’, yang menghukumi kenduri kematian dengan bid’ah yang tidak mustahab.
8. Zaenal Abidin, kurang memahami istilah-istilah keilmuan. Misalnya tentang qiro’ah syadzdzah (bacaan yang aneh atau menyimpang), dalam membaca al-Qur’an. Menurut Zaenal, orang yang membaca ayat al-Qur’an, apabila diulang-ulang maka termasuk qiro’ah syadzdzah yang diharamkan. Sebaiknya Zaenal belajar ilmu qiro’ah atau ilmu tafsir agar tidak keliru dalam hal-hal kecil.
9. Dalam bahasan melafalkan niat, menurut Firanda dan Zaenal, redaksi niat harus menggunakan redaksi usholli dan nawaitu showma ghadin. Kalau redaksinya dirubah menjadi nawaitu an ushalliya atau inni shoimun, dan atau ashuumu, menurut mereka adalah salah dalam madzhab Syafi’iyah.
Demikian beberapa catatan kami terhadap dialog kemarin. Wallahul muwaffiq.
Wassalam
Muhammad Idrus Ramli
Batam, 30 Desember 2013.

Padahal rekaman ada, bisa dilihat sendiri . Siapa yang nggak kasih waktu buat sang kiai berbicara? sampai disitu ada orang-orang yang berkomentar:

“Billy Hardiansyah …. ini serius postingan dri ustdz idrus ramli??? anabnr2 kecewa.ana org awam tdk paham hadist2dll tp yg ana sayangkan dsni knp ” KH. ThobariSyadzily yang menenami KH. Muhammad IdrusRamli tetapi beliau ternyata tidak ikut menjadipembicara hanya menemani duduk karena tidakdiberi waktu berbicara, kecuali 1 menitmenjelang acara dihentikan. ” ana udh nontonvideo itu 2jam lbh ana download 1,27gb dgnresolusi 720p knp ustdz idrus blg kiayi tdk di beriwaktu bicara??ini jelas2 kedustaan besar yg nggk bsditutup2in… silahkan antum tonton sndri apakahtdk diberi waktu bicara? siapa yg melarang? ataukiayi tdk mau bicara dan hanya mensupportustdz idrus ramli? wallahu a’lam bishowab”…

“Mafluch NgLiryf – Kulho yaqin video Sing di rekam aswaja ora ngarah wani di share Ning YouTube.
Kulho salut Lan kagum kalih ust Idrus Ramli,ananging kagum kulho ical lantaran panjenenganipun ust Idrus Ramli tego mbuju-i Lan men fitnah Ustadz Firanda,mboten namung Niku mbuju-ine,tak tingali statuse Lha kok ngendiko ngalor ngidul jare debate 2 lawan 1..waduh..Niki pripun…Gus Ramliii..Gus Ramliii…”

HATI HATILAH AHLI BID’AH JAMAN SEKARANG JAUH LEBIH PERLU DIWASPADAI
Dan Ada tambahan Sedikit berkaitan dengan tema di atas, bahwa tokoh ahlu bid’ah jaman sekarang jauh lebih licik. Dimana mereka sekarang membawakan dalil al Qur’an, namun ditafsirkan berbeda. Contoh dalam menafsirkan dzikir berjamaah serta ahal lainnya. Simak detailnya penjelasan Ustadz Hakim berikut:

asas