Penjelasan Larangan Berfatwa Tanpa Ilmu Dalam Agama Islam

Ketahuilah yaa ikhwatiy fillaah

Di antara fenomena mengkhawatirkan dalam perdebatan-perdebatan adalah berfatwa tanpa ilmu dan bersikap takalluf yakni memaksakan dalil-dalil syar’i sebagai pembenaran terhadap pemahamannya (yang sebenarnya keliru). Semoga Allah menjauhkan kita semua dari sifat orang-orang yang sedikit ilmu namun berani banyak berbicara dan berfatwa, sehingga ia termasuk orang yang disabdakan Rasulullaah SAW:

مَنْ أَفْتَى بِغَيْرِ عِلْمٍ لَعَنَتْهُ مَلاَئِكَةُ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ

Barangsiapa berfatwa tanpa ilmu, maka dilaknat oleh Malaikat langit dan bumi.(HR. Ibn ‘Asaakir dari ‘Ali r.a, hadits ini sanadnya hasan ditakhrij pula oleh al-Hafizh al-Suyuthi dalam kitab al-Jaami’ al-Shaghiir)[1]

Al-Syaikh Al-‘Alim Nawawi al-Bantani menjelaskan hadits ini:

وذلك لكونه أخبر عن حكم الله بغير علم، أفاده العزيزي

“Hal itu karena perbuatannya menjelaskan tentang hukum Allah tanpa ilmu, sebagaimana dijelaskan Imam al-‘Azizi”

Dalam ilmu ushûl al-fiqh, hadits di atas jelas mengandung indikasi tegas (qarînah jâzimah)[2] mengharamkan perbuatan berfatwa tanpa ilmu dengan keberadaan lafazh la’ana yang dimaknai para ‘ulama sebagai berikut:

اللعن في اللغة: هو الإبعاد والطرد من الخير و قيل الطرد والإبعاد من الله ومن الخلق السب والشتم. و أما اللعن في الشرع: هو الطرد والإبعاد من رحمة الله وهو جزء من جزئيات المعنى اللغوي فمن لعنه الله فقد طرده وأبعده عن رحمته واستحق العذاب. و الأعمال التي لعن مقترفها هي من كبائر الذنوب.

“Lafazh al-la’n secara bahasa yakni jauh dan terhempas dari kebaikan, dikatakan pula yakni terjauhkan dari rahmat Allâh dan dari makhluk-Nya secara terhina dan terkutuk. Adapun makna laknat (al-la’n) secara syar’i adalah terhempas dan terjauhkan dari rahmat Allâh dan makna ini merupakan bagian dari maknanya secara bahasa pula, maka barangsiapa yang dilaknat Allâh, maka Allâh telah menghempaskan dan menjauhkannya dari rahmat-Nya dan layak mendapatkan adzab-Nya. Dan perbuatan-perbuatan yang terlaknat itu merupakan dosa besar.”[3]

Imam al-Raghib al-Ashfahani menjelaskan:

معنى اللعن : الطرد والإبعاد على سبيل السخط، وذلك من الله -سبحانه وتعالى- في الآخرة عقوبة، وفي الدنيا انقطاع من قبول رحمته وتوفيقه.

“Makna laknat (al-la’n) adalah terhempas dan terjauhkan masuk ke jalan kemurkaan, yakni terhempas dan terjauhkan dari Allâh, di akhirat mendapat siksa, dan di dunia ia terputus dari rahmat dan taufik-Nya.[4]

Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jaami’ al-Tirmidzi diriwayatkan sebuah hadits (no. 4022): “Dari Ibn ‘Abbas, ia berkata: Rasulullaah SAW bersabda:

مَنْ قالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النّارِ

“Barangsiapa berbicara tentang Al-Qur’an tanpa ilmu, maka bersiap-siaplah mengambil tempatnya di neraka.” (HR. al-Tirmidzi, Ahmad, al-Nasa’i & Ibn Jarir. Abu Isa berkata: “Hadits ini hasan shahih)

Dalam riwayat lainnya (no. 4023), dari Ibn ‘Abbas r.a. bahwa Rasulullaah SAW bersabda:

اتّقُوا الْحَديثَ عَنّي إلاّ مَا عَلِمْتُمْ فَمَنْ كَذَبَ عَلَىّ مُتَعَمّداً فَلْيَتَبَوّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النّارِ، وَمَنْ قالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النّارِ

“Janganlah kalian mengatakan suatu hadits dariku, kecuali apa yang aku ajarkan pada kalian, karena barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja maka bersiap-siaplah mengambil tempatnya di neraka dan barangsiapa berbicara tentang Al-Qur’an berdasarkan ra’yunya (pemikirannya sendiri-pen.), maka bersiap-siaplah mengambil tempatnya di neraka.” (HR. Ibn ‘Abbas. Hadits hasan)[5]

Imam Abu al-A’la al-Mubarakfuri –penyusun kitab Tuhfatul Ahwadzi- menjelaskan:

قوله: “اتقوا الحديث” أي أحذروا روايته “عني” والمعنى لا تحدثوا عني “إلا ما علمتم” أي أنه من حديثي

Sabda Nabi SAW: Perhatikanlah al-hadits” yakni perhatikanlah periwayatannya “dariku” dan maknanya adalah janganlah kalian mengatakan dariku “kecuali apa yang aku ajarkan pada kalian” yakni diketahui bahwa hadits tersebut memang dariku (Nabi SAW).”

Lantas, apa makna “Maka bersiap-siaplah mengambil tempat kediamannya di neraka”? Imam Abu al-A’la al-Mubarakfuri menjelaskan:

“فليتبوأ مقعده من النار” أي ليهييء مكانه من النار قيل الأمر للتهديد والوعيد، وقيل الأمر بمعنى الخبر

“Maka bersiap-siaplah mengambil tempat kediamannya di neraka” yakni bersiap-siaplah menduduki tempatnya kelak di neraka. Dikatakan pula bahwa lafazh perintah ini bermakna peringatan keras dan kecaman, dan dikatakan pula bahwa maknanya adalah khabar.”

Di zaman ini, kita menemukan seorang mubaligh kondang –yang masih muda, terkenal di TV- ketika ditanya tentang wanita menjadi pemimpin, ia berani memfatwakan bahwa seorang wanita memang tidak boleh menjadi Presiden/ Kepala Negara, tapi diperbolehkan menjabat sebagai Gubernur, Bupati (Kepala Daerah)[6]Wahai saudaraku, darimana asal usul pembatasan ini? Bagaimana anda bisa mengatakan bahwa wanita diharamkan menjadi Kepala Negara, sedangkan menjadi Kepala Daerah diperbolehkan? Padahal Rasulullah SAW bersabda:

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

“Tidak akan pernah beruntung suatu kaum, jika urusannya diserahkan kepada wanita.” (HR. Al-Bukhari)

Ada pula di antara mubaligh ini yang memaksakan dalil atas HAM (Hak Asasi Manusia) berdasarkan dalil al-Sunnah yang agung. Dan di zaman ini pula, kita menemukan pula sebagian pemuda muslim yang berani berfatwa bahwa Demokrasi sesuai dengan Islam dengan beragam alasan yang diada-adakan. Wal ‘iyaadzu billaah, Allaahummaghfirlanaa.

‘Ibrah: Teladan Kehati-Hatian Generasi Sahabat & Tabi’in dalam Berfatwa

Al-Hafizh al-Nawawi menuturkan riwayat dari ‘Abdurrahman bin Abi Layla yang berkata:

أدركتُ عشرين ومائة من الأنصار من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يُسأل أحدهم عن المسألة فيردها هذا إلى هذا،‏ وهذا إلى هذا،‏ حتى ترجع إلى الأول

“Saya mengetahui seratus dua puluh sahabat Rasulullaah SAW dari golongan Anshar, salah seorang dari mereka ditanya tentang hukum suatu permasalahan, dan ia melemparkan pertanyaan tersebut kepada lainnya, dan seterusnya kepada yang lainnya hingga kembali kepadanya (yang ditanya pertama kali).”

Dari Ibn Mas’ud bahwa Ibn ‘Abbas –radhiyallaahu ‘anhum– berkata:

مَنْ أفتى عن كلِّ ما يسأل فهو مجنون

“Barangsiapa berani berfatwa atas segala pertanyaan yang ditanyakan maka sebenarnya ia orang yang tidak waras.”

Artinya berani berfatwa tanpa ilmu, tentu berbeda jika ia memang benar dalam berfatwa, berfatwa dengan ilmu. Dari Al-Sya’bi, Al-Hasan dan Abi Hashin –mereka semua golongan tabi’in-, mereka berkata:

إن أحدَكَم ليفتي في المسألة ولو وَرَدَتْ على عُمَر بن الخطاب رضي الله عنه لجمع لها أهل بدر

“Sesungguhnya ada salah seorang dari kalian yang berani berfatwa dalam suatu permasalahan yang jika ditanyakan kepada ‘Umar bin al-Khaththab r.a., sungguh ia akan mengumpulkan terlebih dahulu para sahabat yang ikut serta dalam perang Badr (mendiskusikannya-pen.).”

Al-Hafizh Al-Nawawi mengisahkan:

وعن الشافعي -وقد سئل عن مسألةٍ فلم يجب-،‏ فقيل له،‏ فقال:‏ “حتى أدري أن الفضل في السكوت أو في الجواب”.‏

“Dari Al-Imam Al-Syafi’i -pernah ditanya tentang suatu permasalahan dan ia tidak menjawab-, ia berkata: “(Saya tidak akan menjawab) hingga saya mengetahui mana yang lebih utama antara diam atau menjawab.”

Dari Al-Atsram, ia berkata:

سمعتُ أحمد بن حنبل يكثر أن يقول:‏ (لا أدري)

“Saya mendengar Imam Ahmad bin Hanbal banyak berkata: “Saya tidak mengetahuinya”

Yakni menjawab tidak tahu ketika ditanya tentang suatu permasalahan.

Dari Al-Haytsam bin Jamil, ia mengisahkan:

شهدتُّ مالكاً سئل عن ثمان وأربعين مسألة فقال في اثنتين وثلاثين منها:‏ (لا أدري)

“Saya menyaksikan Imam Malik pernah ditanya sebanyak empat puluh delapan permasalahan dan ia menjawab “Saya tidak tahu” atas tiga puluh dua pertanyaan di antaranya.”

Al-Hafizh Al-Imam Al-Nawawi meriwayatkan:

وعن مالك أيضاً:‏ أنه ربما كان يُسأل عن خمسين مسألة فلا يجيب في واحدة منها،‏ وكان يقول:‏ “من أجاب في مسألة فينبغي قبل الجواب أن يعرض نفسه على الجنة والنار وكيف خلاصه ثم يجيب”.‏

“Dari Imam Malik pula bahwa ia pernah ditanya sekitar lima puluh pertanyaan dan ia tidak menjawab satupun pertanyaan tersebut. Dan Imam Malik berkata: “Barangsiapa hendak menjawab suatu permasalahan maka sebelum menjawab, sudah semestinya ia memalingkan dirinya mengingat surga dan neraka dan bagaimana kesudahannya kemudian jawablah.”

وسئل عن مسألة فقال:‏ (لا أدري)،‏ فقيل:‏ هي مسألة خفيفة سهلة،‏ فغضب وقال:‏ (ليس في العلم شيء خفيف)

“Dan ia pernah ditanya tentang suatu permasalahan, dan menjawab: “Saya tidak mengetahuinya” dikatakan padanya: “Ini adalah pertanyaan ringan yang mudah”, perkataan ini membuat Imam Malik marah lantas ia berkata: “Tidak ada hal yang sepele dalam ilmu!”

Mereka adalah para ulama yang masyhur dengan keilmuannya, namun sangat berhati-hati dalam berfatwa, dan tidak menjawab ketika memang merasa tidak mengetahui jawaban yang paling tepat berdasarkan ilmu. Lantas bagaimana dengan kita? Semoga Allah mengampuni kita.

والله أعلم بالصواب


[1] Lihat: Mirqâtu Shu’ûd al-Tashdîq fî Syarh Sullam al-Tawfîq ilâ Mahabbatillâh ‘alâ al-Tahqîq, Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar al-Jawi al-Syafi’i – Daar al-Kutub al-Islaamiyyah.

[2] Lihat: Taysîr al-Wushûl ilâ al-Ushûl: Dirâsât fii Ushuul al-Fiqh, Al-‘Alim al-Syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu Rusythah – Dar al-Ummah: Beirut – Cet. III: 1421 H/ 2000.

[3] Lihat: al-Mal’ûnûn fî al-Sunnah al-Shahîhah, Doktor Fayshal al-Jawabirah – Wizârah al-Syu’ûn al-Islâmiyyah.

[4] Lihat: Mufradât Alfâzh al-Qur’ân al-Karîm, Imam al-Raghib al-Ashfahani. Lihat pula: As-ilatun Bayâniyyatun fî al-Qur’ân al-Karîm, Syaikh Dr. Fadhil Shalih al-Saamarâ-i – Maktabatush-Shahaabah: Uni Emirat Arab – Cet. I: 1429 H/ 2008.

[5] Imam Abu al-A’la al-Mubarakfuri mengatakan: “Hadits hasan, dan Imam Ahmad pun meriwayatkan hadits ini melalui jalur lainnya.”

[6] Dalam program acara pengajian mubaligh ini di salah satu stasiun TV swasta Indonesia.

Sumber: http:// irfanabunaveed. wordpress. com/2013/05/14/hati-hati-berfatwa-tanpa-ilmu/

Komentar yang Sesuai dengan Topik Menggunakan Bahasa Sopan, Kami sangat Hargai.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s