Apakah Boleh Suami atau Istri Memiliki Sifat Pencemburu? Cemburu yang Gimana?

Bumi Islam – Ketika ada seorang suami yang merelakan istrinya bekerja dengan ikhtilat di dalamnya, kebanyakan dari opini orang akan mengatakan bahwa sang suami tersebut begitu pengertian dan sangat menyayangi istrinya sebab memberi izin untuk bekerja mengembangkan karirnya. Begitu pula jika ada seorang ayah yang memberi izin pada putri atau anaknya untuk pacaran maka ia dianggap sebagai ayah yang baik, paham akan kondisi buah hatinya.

Tidak terkecuali, seorang kepala rumah tanggga yang membiarkan istri dan anak wanitanya tidak berhijab syar’i saat berada di luar rumah, ia juga dikatakan sebagai kepala rumah tangga yang baik. Mampu sabar untuk tidak terkontaminasi dengan pendapat-pendapat luar dan memeberi kebebesan memilih itulah anggapan yang diberikan pada kepala keluarga tersebut.

Yang ada adalah, masing-masing jalan sesuai kebiasaan umum. Yang terpenting bagi mereka tidak menghancurkan nama besar dan tidak aneh atau neko-neko. Jika terlalu cemburu atau memiliki ghirah maka ia akan disifati temperamen, over protetktif, sumbu pendek dan bahkan belum dewasa.

 

Apakah ini sejalan dengan syari’at Islam? Tentu tidak!. Islam mengajarkan kepada kita untuk memiliki sifat ghirah dan ditempatkan secara proporsional. Terlebih kepada keluarga sangat dianjurkan untuk kita emiliki ghirah yang baik terhadap mereka. Kecemburuan (ghirah) adalahrasa tidak sukanya hati terhadap campur tangan orang lain dalam hal yang menjadi haknya secara khusus.

Besar sekali manfaat ghirah. Dengannya seorang akan berusaha menjaga dan mencegah sesuatu yang menjadi tanggungannya dari hal yang menyakiti atau merusak. Orang yang memiliki ghirah terhadap Islam akan marah jika Islam dihina. Begitu pula orang yang memiliki ghirah terhadap istri dan anaknya maka ia tidak akan membiarkan istri serta anaknya menjadi santapan empuk syaitan laknatullah ‘alaih. Ia tidak akan sabar dengan berkeliarannya mereka tanpa hijab yang syar’i juga tidak akan membiarkan kejelakan dan keburukan terjadi pada mereka.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mengancam keras mereka yang tidak memiliki rasa kecemburuan. Bahkan rasulullah memberikan peringatan keras kepada dayyuts, orang yang tidak ada kecemburuan melihat istrinya serong atau kemungkinan terjadi atas keluarganya. Nabi bersabda, “Ada tiga golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat nanti, yaitu orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dan ad-dayyuts.” (HR. An Nasa’i dan lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani)

Inilah dayyuts, sebahagian ulama mengartikan bahwa dayyuts adalah orang yang tidak terusik (cemburu) atas perbuatan haram yang terjadi dalam rumah tangganya. Dia ridha dengan kemaksiatan dan perbuatan keji yang dilakukan oleh anggota keluarganya. Jadi jelaslah, kecemburuan yang baik bukanlah perbuatan tercela. Bersikap dayyuts tidak sama dengan sabar sebab justru itulah ketidakmampuan untuk menyayangi dan memahami.

Semoga hadist paparan mengenai kecemburuan yang dianjurkan oleh syariah islam bisa memberikan tambahan pemahan yang baik bagi kita sekalian.

Komentar yang Sesuai dengan Topik Menggunakan Bahasa Sopan, Kami sangat Hargai.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s