Kisah Qadhi al-Maristan

Bumi Islam – Apa yang dilakukan beliau sungguh brilian, di luar nalar manusia pada umumnya. Sebuah komitmen yang sangat mungkin mengundang cibiran manusia-manusia tersayang dan kerabat dekat. Namun di balik itu, justru itulah awal titik balik sejarah hidupnya, yang mampu mengubah mind set banyak orang akan matematika Sang Pencipta yang menyimpan seribu tanda tanya. Rekam jejaknya benar-benar menginspirasi orang beriman sepanjang zaman.

‪#‎Ketika‬ persaingan hidup semakin ketat. Sementara peluang semakin susah didapat. Tak ayal, persaingan yang sehat acap kali berubah menjadi arena saling menjegal. Khalayak tak lagi memperhitungkan mahalnya capaian dari sebuah proses yang halal. Sikut kiri, hajar depan, banting belakang. Kalau perlu semua jurus pamungkas dikeluarkan. Entah amplop tebal diselipkan, bahkan ‘harga diri’ pun disuguhkan. Demi meraih sebuah kemapanan. Demi pekerjaan menjanjikan. Demi titel dan jabatan.
Meski lisan para motivator telah berbusa, bahkan singa podium telah berkelana ke mana-mana, namun tetap saja mereka bersikukuh mempertahankan cara-cara yang tak sehat. Singkat kata, kita membutuhkan figur teladan yang mampu memberikan pencerahan bahwa di balik setiap ketentuan-Nya, ada pintu-pintu rahasia yang telah Allah siapkan bagi hamba-Nya yang bertakwa.

Sebuah kisah fenomenal seorang ulama hadits abad ke 6 H, yang dikenal dengan Qadhi al-Maristan insya Allah akan menjawab semua tantangan di atas. Meski dalam keadaan yang sangat menghimpit, beliau mampu menjaga iffah di hadapan makhluq, hingga Sang Khaliq pun telah menyiapkan baginya sejuta kebaikan yang tak disangka-sangka.

Qadhi al-Maristan memulai ceritanya:

“Saat itu aku tinggal di sekitar Mekah. Hari itu benar-benar aku sangat lapar. Meski demikian, tak jua aku temukan sesuatu yang bisa aku gunakan untuk mengganjal perutku.

Sesaat kemudian, nampaknya usahaku menemui hasil. Aku menemukan suatu karung terbuat dari ibrisim, kain sutra mahal yang diikat pula dengan tali sutra yang sama. Lantas aku bawa karung itu ke rumah untuk aku buka. Tak kusangka, ternyata yang kudapati justru sebuah kalung dari mutiara yang sangat elok, yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

Aku kembali ke luar melanjutkan usahaku yang belum usai. Tiba-tiba saja aku mendengar seorang bapak menyeru kepada orang-orang di sekitarnya. Sedang tangannya menggenggam segepok kain yang berisi 500 dinar (setara Rp 1,25 Milyar). Dia berseru, “Barang siapa yang bisa menemukan karungku yang berisi mutiara, akan aku berikan semua uang ini.”

Tak perlu lama menunggu, aku sambut seruannya, “ Aku, Pak. Aku.” Aku memang butuh uang itu. Aku sangat lapar. Barang kali uang itu bisa aku manfaatkan.

Aku panggil bapak itu, “Di sini, Pak”. Aku ajak ia ke rumahku agar kutunjukkan kepadanya karung yang aku temukan, barang kali itu yang ia cari. Benar, ia pun menyebutkan semua ciri karung itu percis dengan yang aku temukan, dari model ikatannya, ciri-ciri mutiara di dalamnya, sampai bentuk jahitan yang menempel pada karung itu.

Segera aku ambil karung itu, lalu aku serahkan kepadanya. Kemudian ia pun menyerahkan 500 dinar itu kepadaku, namun aku mengurungkan niatku mengambil upah itu. Aku bilang padanya, ”Tidak usah, Pak. Bagiku wajib hukumnya mengembalikan barang ini kepada bapak. Tidak pantas bagiku mengambil upah dari temuan ini, karena ini memang punya bapak.”

Dia kembali memaksaku, “Kamu harus terima uang ini.” Dia terus-menerus merayuku agar aku mau menerimanya. Namun, tetap saja aku enggan menerimanya. Akhirnya, ia pun pergi.

Hingga suatu hari terjadi lah sesuatu menakjubkan padaku. Saat itu aku sedang merantau keluar Mekah menaiki perahu. Tiba-tiba saja perahu tersebut terbelah, lenyaplah semua harta benda yang ada di atas perahu, dan semua penumpang pun tenggelam, kecuali diriku seorang. Aku selamat di atas sebuah kayu bongkahan perahu. Seorang diri terombang-ambing di tengah di laut hingga beberapa waktu. Tak tahu entah ke mana ombak kan membawaku.

Tiba lah aku di sebuah pulau yang dihuni suatu kaum, sama sekali aku tak mengenal mereka. Aku cari sebuah masjid untuk istirahat. Tatkala aku sedang tilawah qur’an, mereka kagum mendengar tilawahku. Dan sejak itu pula para penduduk berbondong-bondong menghampiriku, memohon, ”Ajari kami al-Qur’an.” Tak kusangka, darinya aku dapatkan rezeki dalam jumlah yang cukup banyak.

Kemudian aku temukan beberapa lembar mushaf di masjid. Lalu aku baca satu-persatu. Lantas mereka pun penasaran, ”Apakah Tuan juga bisa menulis?” Aku jawab, “Iya.” Seketika itu juga mereka kembali memintaku, “Kalau begitu, ajari kami menulis.” Tak lama kemudian, mereka datang bersama seluruh anak-anaknya, yang masih belia maupun dewasa, semua ikut belajar menulis kepadaku. Dari aktivitas ini pun, aku kembali meraup keuntungan yang sangat banyak.”

Tidak hanya itu. Lagi-lagi tawaran menggiurkan menghampiriku, “Kami memiliki seorang gadis yatim yang cantik nan kaya. Apakah Tuan mau menikah dengannya?” Aku menolak tawaran itu. Namun mereka benar-benar memaksaku hingga aku pun tak sanggup lagi menolaknya.

Akhirnya, malam pengantin pun tiba. Saat ku hendak memadu cinta dengannya, saat kupandangi dirinya, tiba-tiba mataku justru terfokus pada sesuatu yang melingkari lehernya. Aku mengenal betul barang ini. Bukankan itu kalung mutiara yang aku temukan dulu? Benarkah? Demi rasa penasaranku itu, sampai-sampai malam pertama itu hanya aku habiskan buat mantengin kalung mutiara (nganggur??).

Esok harinya, orang-orang mendatangiku di masjid mengadu, “Wahai Tuan, sungguh Anda telah menghancurkan hati gadis yatim ini, gara-gara tadi malam Tuan lebih sibuk melihat kalung mutiara di lehernya dari pada sekedar melihat wajahnya (apalagi menyentuhnya).”

Akhirnya, aku ceritakan kepada mereka kisah bersejarah yang pernah aku alami ketika menemukan kalung mutiara itu. Seketika itu juga gemuruh “Allaahu Akbarrr!!” menggema hingga ke seluruh penjuru pulau, buah reaksi spontan dari mereka setelah mendengar cerita ini. Mereka sangat terharu mendengarnya. Aku pun heran dan bertanya, “Ada apa ini?”

Dengan terharu bahagia mereka menjawab, ”Tahukah Tuan, seorang bapak yang mencari kalung mutiara yang Tuan temukan saat itu adalah ayah dari gadis yatim ini. Beliau kagum, ”Seumur-umur, aku sama sekali belum pernah bertemu pemuda muslim di dunia ini, sepertinya.” Lantas beliau memanjatkan doa, ”Ya Allah, kelak pertemukan kembali aku dengannya, agar aku bisa nikahkan ia dengan putriku.” Dan sekarang terbukti, permintaannya telah terkabul.”

Aku pun tinggal bersamanya beberapa tahun, sampai Allah mengaruniai kami dua orang anak. Kemudian istriku meninggal, maka aku dan kedua anakku mewarisi kalung mutiara itu. Selang beberapa waktu, kedua anak kami pun meninggal, maka kalung mutiara itu pun kembali ke tanganku. Lalu aku jual ia seharga seratus ribu dinar (250 Milyar??). Dan apa yang kalian lihat sekarang dari hartaku adalah sisa dari hasil penjualan kalung mutiara itu.” Wallahu a’lam.

_________
Bermula dari kalung mutiara yang beliau kembalikan dan 500 dinar (sekitar 1,25 Milyar rupiah) yang beliau abaikan karena dorongan menolong sesama, lalu Allah gantikan yang lebih baik baginya. Menjadi imam, dan panutan. Harta berkecukupan. Dinikahkan dengan gadis cantik nan kecukupan. Hingga Allah genapi dengan kembalinya kalung mutiara ke pangkuan seharga 100 ribu dinar, setara dengan 250 Milyar rupiah. La Haula wa La Quwwata Illa Billah.

Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا للهِ إلاَّ أَبْدَلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ))
Sungguh, tidaklah engkau tinggalkan sesuatu karena mengharap ridho Allah, melainkan Allah gantikan sesuatu yang lebih baik bagimu. (HR. Ahmad)Copas dr ustadz

Musyaffa’ Rodli:
[Keputusan Brilian Qadhi al-Maristan]
Apa yang dilakukan beliau sungguh brilian, di luar nalar manusia pada umumnya. Sebuah komitmen yang sangat mungkin mengundang cibiran manusia-manusia tersayang dan kerabat dekat. Namun di balik itu, justru itulah awal titik balik sejarah hidupnya, yang mampu mengubah mind set banyak orang akan matematika Sang Pencipta yang menyimpan seribu tanda tanya. Rekam jejaknya benar-benar menginspirasi orang beriman sepanjang zaman.
#Ketika persaingan hidup semakin ketat. Sementara peluang semakin susah didapat. Tak ayal, persaingan yang sehat acap kali berubah menjadi arena saling menjegal. Khalayak tak lagi memperhitungkan mahalnya capaian dari sebuah proses yang halal. Sikut kiri, hajar depan, banting belakang. Kalau perlu semua jurus pamungkas dikeluarkan. Entah amplop tebal diselipkan, bahkan ‘harga diri’ pun disuguhkan. Demi meraih sebuah kemapanan. Demi pekerjaan menjanjikan. Demi titel dan jabatan.
Meski lisan para motivator telah berbusa, bahkan singa podium telah berkelana ke mana-mana, namun tetap saja mereka bersikukuh mempertahankan cara-cara yang tak sehat. Singkat kata, kita membutuhkan figur teladan yang mampu memberikan pencerahan bahwa di balik setiap ketentuan-Nya, ada pintu-pintu rahasia yang telah Allah siapkan bagi hamba-Nya yang bertakwa.
Sebuah kisah fenomenal seorang ulama hadits abad ke 6 H, yang dikenal dengan Qadhi al-Maristan insya Allah akan menjawab semua tantangan di atas. Meski dalam keadaan yang sangat menghimpit, beliau mampu menjaga iffah di hadapan makhluq, hingga Sang Khaliq pun telah menyiapkan baginya sejuta kebaikan yang tak disangka-sangka.
Qadhi al-Maristan memulai ceritanya:
“Saat itu aku tinggal di sekitar Mekah. Hari itu benar-benar aku sangat lapar. Meski demikian, tak jua aku temukan sesuatu yang bisa aku gunakan untuk mengganjal perutku.
Sesaat kemudian, nampaknya usahaku menemui hasil. Aku menemukan suatu karung terbuat dari ibrisim, kain sutra mahal yang diikat pula dengan tali sutra yang sama. Lantas aku bawa karung itu ke rumah untuk aku buka. Tak kusangka, ternyata yang kudapati justru sebuah kalung dari mutiara yang sangat elok, yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
Aku kembali ke luar melanjutkan usahaku yang belum usai. Tiba-tiba saja aku mendengar seorang bapak menyeru kepada orang-orang di sekitarnya. Sedang tangannya menggenggam segepok kain yang berisi 500 dinar (setara Rp 1,25 Milyar). Dia berseru, “Barang siapa yang bisa menemukan karungku yang berisi mutiara, akan aku berikan semua uang ini.”
Tak perlu lama menunggu, aku sambut seruannya, “ Aku, Pak. Aku.” Aku memang butuh uang itu. Aku sangat lapar. Barang kali uang itu bisa aku manfaatkan.
Aku panggil bapak itu, “Di sini, Pak”. Aku ajak ia ke rumahku agar kutunjukkan kepadanya karung yang aku temukan, barang kali itu yang ia cari. Benar, ia pun menyebutkan semua ciri karung itu percis dengan yang aku temukan, dari model ikatannya, ciri-ciri mutiara di dalamnya, sampai bentuk jahitan yang menempel pada karung itu.
Segera aku ambil karung itu, lalu aku serahkan kepadanya. Kemudian ia pun menyerahkan 500 dinar itu kepadaku, namun aku mengurungkan niatku mengambil upah itu. Aku bilang padanya, ”Tidak usah, Pak. Bagiku wajib hukumnya mengembalikan barang ini kepada bapak. Tidak pantas bagiku mengambil upah dari temuan ini, karena ini memang punya bapak.”
Dia kembali memaksaku, “Kamu harus terima uang ini.” Dia terus-menerus merayuku agar aku mau menerimanya. Namun, tetap saja aku enggan menerimanya. Akhirnya, ia pun pergi.
Hingga suatu hari terjadi lah sesuatu menakjubkan padaku. Saat itu aku sedang merantau keluar Mekah menaiki perahu. Tiba-tiba saja perahu tersebut terbelah, lenyaplah semua harta benda yang ada di atas perahu, dan semua penumpang pun tenggelam, kecuali diriku seorang. Aku selamat di atas sebuah kayu bongkahan perahu. Seorang diri terombang-ambing di tengah di laut hingga beberapa waktu. Tak tahu entah ke mana ombak kan membawaku.
Tiba lah aku di sebuah pulau yang dihuni suatu kaum, sama sekali aku tak mengenal mereka. Aku cari sebuah masjid untuk istirahat. Tatkala aku sedang tilawah qur’an, mereka kagum mendengar tilawahku. Dan sejak itu pula para penduduk berbondong-bondong menghampiriku, memohon, ”Ajari kami al-Qur’an.” Tak kusangka, darinya aku dapatkan rezeki dalam jumlah yang cukup banyak.
Kemudian aku temukan beberapa lembar mushaf di masjid. Lalu aku baca satu-persatu. Lantas mereka pun penasaran, ”Apakah Tuan juga bisa menulis?” Aku jawab, “Iya.” Seketika itu juga mereka kembali memintaku, “Kalau begitu, ajari kami menulis.” Tak lama kemudian, mereka datang bersama seluruh anak-anaknya, yang masih belia maupun dewasa, semua ikut belajar menulis kepadaku. Dari aktivitas ini pun, aku kembali meraup keuntungan yang sangat banyak.”
Tidak hanya itu. Lagi-lagi tawaran menggiurkan menghampiriku, “Kami memiliki seorang gadis yatim yang cantik nan kaya. Apakah Tuan mau menikah dengannya?” Aku menolak tawaran itu. Namun mereka benar-benar memaksaku hingga aku pun tak sanggup lagi menolaknya.
Akhirnya, malam pengantin pun tiba. Saat ku hendak memadu cinta dengannya, saat kupandangi dirinya, tiba-tiba mataku justru terfokus pada sesuatu yang melingkari lehernya. Aku mengenal betul barang ini. Bukankan itu kalung mutiara yang aku temukan dulu? Benarkah? Demi rasa penasaranku itu, sampai-sampai malam pertama itu hanya aku habiskan buat mantengin kalung mutiara (nganggur??).
Esok harinya, orang-orang mendatangiku di masjid mengadu, “Wahai Tuan, sungguh Anda telah menghancurkan hati gadis yatim ini, gara-gara tadi malam Tuan lebih sibuk melihat kalung mutiara di lehernya dari pada sekedar melihat wajahnya (apalagi menyentuhnya).”
Akhirnya, aku ceritakan kepada mereka kisah bersejarah yang pernah aku alami ketika menemukan kalung mutiara itu. Seketika itu juga gemuruh “Allaahu Akbarrr!!” menggema hingga ke seluruh penjuru pulau, buah reaksi spontan dari mereka setelah mendengar cerita ini. Mereka sangat terharu mendengarnya. Aku pun heran dan bertanya, “Ada apa ini?”
Dengan terharu bahagia mereka menjawab, ”Tahukah Tuan, seorang bapak yang mencari kalung mutiara yang Tuan temukan saat itu adalah ayah dari gadis yatim ini. Beliau kagum, ”Seumur-umur, aku sama sekali belum pernah bertemu pemuda muslim di dunia ini, sepertinya.” Lantas beliau memanjatkan doa, ”Ya Allah, kelak pertemukan kembali aku dengannya, agar aku bisa nikahkan ia dengan putriku.” Dan sekarang terbukti, permintaannya telah terkabul.”
Aku pun tinggal bersamanya beberapa tahun, sampai Allah mengaruniai kami dua orang anak. Kemudian istriku meninggal, maka aku dan kedua anakku mewarisi kalung mutiara itu. Selang beberapa waktu, kedua anak kami pun meninggal, maka kalung mutiara itu pun kembali ke tanganku. Lalu aku jual ia seharga seratus ribu dinar (250 Milyar??). Dan apa yang kalian lihat sekarang dari hartaku adalah sisa dari hasil penjualan kalung mutiara itu.” Wallahu a’lam.
_________
Bermula dari kalung mutiara yang beliau kembalikan dan 500 dinar (sekitar 1,25 Milyar rupiah) yang beliau abaikan karena dorongan menolong sesama, lalu Allah gantikan yang lebih baik baginya. Menjadi imam, dan panutan. Harta berkecukupan. Dinikahkan dengan gadis cantik nan kecukupan. Hingga Allah genapi dengan kembalinya kalung mutiara ke pangkuan seharga 100 ribu dinar, setara dengan 250 Milyar rupiah. La Haula wa La Quwwata Illa Billah.
Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا للهِ إلاَّ أَبْدَلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ))
Sungguh, tidaklah engkau tinggalkan sesuatu karena mengharap ridho Allah, melainkan Allah gantikan sesuatu yang lebih baik bagimu. (HR. Ahmad)

Komentar yang Sesuai dengan Topik Menggunakan Bahasa Sopan, Kami sangat Hargai.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s