Pandangan Ustadz Ahlusunnah Indonesia Mengenai Pemilu

Bumi Islam – Kebetulan menemukan pendapat dan renungan beberapa ustad-ustad ahlusunnah hafidzahullahuta’ala  mengenai mengenai fenomena pencoblosan / pemilu yang sebentar lagi terjadi di indonesia. Apa Isinya?

Renungan Sebelum Menycoblos… dari Ustad Firanda

1) Bukanlah yang terbaik menjelaskan bolehnya nyoblos dalam pemilu (karena bolehnya nyoblos telah difatwakan oleh banyak ulama besar), akan tetapi yang lebih baik adalah penjelasan manakah pilihan partai atau caleg yang terbaik. Ini butuh perjuangan dan kerja keras, serta pandangan yang tajam dari para pakar.

Karena inti dari fatwa para ulama adalah ارتكاب أخف الضررين “Menempuh yang mudorotnya terkecil” bukan bebas memilih…, maka butuh perjuangan untuk menentukan mana yang mudorotnya terkecil.

2) Jika hak milih digunakan untuk nyoblos partai atau caleg yang kurang baik, maka malah akan merugikan islam dan bangsa… Memaksakan orang awam yang tdk bisa memilah milih untuk menyoblos adalah memaksa dia untuk beramal tanpa ilmu dan membabi buta…

 

3) Mengajari orang-orang awam untuk menilai juga merupakan pembebanan mereka dengan perkara yang berat, karena bahan penilaian mereka adalah tv, koran, dan internet. Sementara media-media informasi فيه ما فيه

Hal ini juga mengaharuskan mereka untuk menyita waktu yang banyak dalam melaksanakan penelitian tersebut, terlebih lagi jumlah partai yang hendak dipilih banyak. Memang perkaranya lebih ringan dan lebih mudah tatkala memilih person daripada partai yang isinya heterogen

4) lebih sulit lagi kenyataan yang telah terjadi yaitu munculnya “tokoh yang baik” dari partai yang dianggap tidak baik, demikian juga sebaliknya

5) Suatu partai yang mengharamkan golput sementara “sentimen” jika partainya tidak dipilih sama saja dengan menyatakan “wajib hukumnya untuk memilih partaiku, jika tdk maka berdosa”!!

6) Kita tetap berharap partai yang islami atau yang terwarnai islam, bukan partai yang terbuka dan bertekad untuk tdk menegekan syari’at. Apakah jika partai terbuka tersebut menang maka “syi’ah” akan ditolaknya? Ataukah dijadikan teman sebagaimana ada calegnya yang syiah dan ada juga yang nonmuslim?
Konsekuensi dari “keterbukaan” maka semuanya bisa jadi teman dan tidak boleh memusuhi siapapun!!, wallahu a’lam

7) jangan lupa untuk terus beribadah dan berdoa serta meningkatkan takwa dan tauhid masing masing, karena apapun kondisi yang terjadi ketakwaanlah yang menyelamatkan kita dan negeri ini.

Intinya yang dibutuhkan sekarang adalah mencari partai atau caleg yang terbaik sebagai bentuk pengamalan fatwa para ulama, karena jika tdk bisa ditentukan mana yang terbaik maka pada hakekatnya fatwa para ulama tersebut tdk bisa diterapkan !!

Setelah itu berusaha mensosialisasikannya…
dan sungguh hal ini membutuhkan riset khusus…

Jika saudara anda akhirnya memilih “diam dan tidak ikut-ikutan” maka janganlah cela dia, jika anda mencelanya maka berilah solusi partai terbaik jaminan anda… Jika anda tdk bisa menjamin maka jangan paksa saudara anda untuk melakukan hal yang meragukannya..

Demikian juga sebaliknya, jika saudara anda bersikeras untuk mencoblos -berdasarkan riset dan penilitian yang bisa ia pertanggungjawabkan di hadapan Allah- maka hargailah ijtihad dan perjuangannya Semoga Allah memberikan pimpinan yang terbaik bagi negeri kita.

Pada kesempatan yang lain, Ustadz Andy bangkit menyatakan:

imho saya yang bukan apa-apa ini, tolong bagi yang mencari fatwa dari ulama Timur Tengah tentang hukum mencoblos dsbnya, atau bagi asatidzah yang telah memberi fatwa bolehnya mencoblos, mohon dengan sangat menyertakan informasi SIAPA YANG HARUS KAMI PILIH…

tanpa informasi itu, maka sepertinya non-sense kaidah “mencari mudharat yg lebih kecil” akan terwujud krn suara kaum muslimin tetap akan terpecah belah. Tanpa informasi itu maka sepertinya non-sense kaum muslimin bisa menyelamatkan agamanya (katanya) dengan cara mengikuti pemilu…

Bila informasi itu tidak ada, maka kok kayaknya lebih layak bagi saya untuk tidak ikut-ikutan politik praktis yang menghabiskan tenaga dan melupakan ilmu itu…dan biarlah saya meminta kepada Allah saja supaya memberi kami pemimpin yang amanah dan tidak mendzalimi kami…dah gitu aja…

 

Nasehat dari ust. Dr. Ali Musri Semjan Putra MA:
“Hendaknya setiap dai untuk menekankan kepada mad’unya (yang didakwahi) agar tidak membesar2kan perbedaan pendapat diantara para asatidz Ahlussunnah. Karena hal tersebut yang telah menyebabkan perpecahan diantara Ahlussunnah pada tahun 1992.” (Disampaikan saat Daurah Masyaikh di Trawas. Sumber dari al akh Doel al Batawi).

Nasehat seperti ini ada baiknya dikondisikan dengan permasalahan saat ini yaitu tentang Pemilu. Diantara Ahlussunnah yang ada di Indonesia saat ini mulai terlihat perselisihan atau perpecahan akibat perbedaan pendapat mengenai boleh atau tidaknya ikut Pemilu.

Yang berpendapat ikut Pemilu atau Nyoblos memiliki argumen, diantaranya:
– Lebih memilih pendapat Ulama daripada pendapatnya orang2 yang selevel ustadz.
– Memilih kemudharatan yang lebih ringan, dari 2 kemudharatan.
– Kondisi darurat, menghindari calon2 dari orang Syiah atau Non Muslim.
– Taat Ulil Amri.
– dll.

Adapun yang berpendapat tidak ikut Pemilu atau Golput juga punya argumen, diantaranya:
– Hukum asal Demokrasi adalah haram.
– Pendapat ini walaupun dari orang selevel ustadz, tapi juga merujuk kepada Ulama. Jadi masing2 pendapat intinya merujuk kepada Ulama juga asalnya.
– Tidak ada yang pantas untuk dipilih, jadi tidak bisa ditimbang mana yang
lebih maslahat atau mudharat.
– Mengambil kaidah ‘Khuruj minal Khilaf’ (keluar dari perselisihan), jadi supaya aman dan selamat adalah tidak mengikuti.
– dll.

Masing2 argumen diatas memiliki hujjah yang kuat, dan juga fatwa2 Ulama. Apalagi jika disorot perkembangan berita saat ini, yang paling banyak tersebar dan lebih mendominasi adalah fatwa2 para Ulama yang berpendapat bolehnya ikut Pemilu, padahal banyak juga fatwa2 lain yang tidak membolehkan yang masih tersimpan.

Sehingga yang terjadi adalah para ikhwah yang mendukung fatwa tersebut merendahkan, bahkan menyalahkan orang2 yang berbeda pendapat dengannya. Diantara mereka bahkan ada yang sampai bermusuhan, bertengkar, dan berdebat keras. Walaupun sikap seperti itu adalah oknum, dan tidak semua dari kita bersikap seperti itu.

Inilah yang perlu kita perhatikan sebagai Ahlussunnah atau kaum Muslimin di negara kita. Jangan sampai jumlah kita yang sudah sedikit, akhirnya semakin bertambah sedikit. Jangan sampai kita lalai terhadap masalah yang satu ini. Karena di depan kita ada masalah yang jauh lebih besar dan utama dari Pemilu yang kita perselisihkan.

Yaitu Ukhuwah atau Persatuan Ahlussunnah dan kaum Muslimin. Ini yang jauh lebih utama dan sangat berharga. Jangan sampai demi memilih yang lebih maslahat atau menghindari kemudharatan yang lebih besar, tanpa disadari kita malah terjerumus ke dalam kemudharatan yang lain yang lebih besar lagi, yaitu perpecahan atau pertengkaran.

Nasehat ust. Dr. Ali Musri diatas sangat bermanfaat sekali untuk kita, apalagi untuk para da’i yang memiliki kemampuan lebih untuk menjaga persatuan dan ukhuwah para murid2nya. Maka itu, sangat banyak kita jumpai sekarang ini para ustadz yang lebih memilih sikap untuk tawaqquf (diam) dan tidak menjawab/merespon ketika ditanya tentang hukum Pemilu saat ini, tidak lain adalah agar tidak semakin memperkeruh masalah atau menutup pintu perpecahan. Semoga untuk kedepannya kita bisa bersikap lebih adil dalam menyikapi perselisihan diantara Ahlussunnah. Wallahu a’lam.

 

Apa simpulan yang didapat Oleh Anda?

Komentar yang Sesuai dengan Topik Menggunakan Bahasa Sopan, Kami sangat Hargai.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s