Keutamaan Mempelajari dan Menghafal hadist Rasulullah

Selain menghafal al Quran, Menghafal hadist hadist rasulullah juga memiliki banyak keutamaan. Mari kita cermati detail mengenai Keutamaan Mempelajari dan Menghafal hadist Rasulullah.

Rasulullah pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan  Imam At Tirmidzi, dan hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullahu:

ألا إني أوتيت القرأن ومثله معه

“Ingatlah, sesungguhnya saya telah diberikan al-Qur’an dan dengan semisalnya yaitu sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Karena pada dasarnya ketika seorang muslim ingin memahami al-Qur’an dengan sebenar-benarnya, maka hendaklah ia kembali kepada dua sumber yaitu al-Qur’an dan sunnah Rasulullah. Keduanya tidak dapat dipisahkan, dia harus mempelajari keduanya. Tidak bisa hanya mempelajari al-Qur’an dan meninggalkan as-sunnah, atau hanya mempelajari as-sunnah dan meninggalkan al-Qur’an. Sebab, manusia dalam memahami Islam terbagi menjadi 5 kelompok.

  1. Memahami Islam bukan dari sumbernya; al-Qur’an dan as-Sunnah.
  2. Memahami Islam dengan al-Qur’an saja tanpa as-Sunnah.
  3. Memahami Islam dengan as-Sunnah saja tanpa al-Qur’an.
  4. Memahami Islam dengan al-Qur’an dan as-Sunnah menurut pemahamannya sendiri.
  5. Memahami Islam dengan al-Qur’an dan as-Sunnah menurut pemahaman Rasulullah dan para sahabatnya yang mulia.
  • Memperbanyak shalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
  • Mengetahui sunnah Rasulullah dan selamat dari fanatik dan taqlid. Karena setiap perkataan bisa diambil dan ditolak kecuali perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kalau kita memiliki prinsip seperti ini maka insya Allah terlepas dari sikap fanatik kepada seorang tokoh, ustadz dan sebagainya. Dimana perkataan, perbuatan atau sikapnya tidak sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
  • Allah akan mencerahkan wajah orang yang belajar hadits.
  1. Orang yang menanggung hutang orang lain hingga hutang yang ditanggungnya lunas.
  2. Orang yang terkena musibah hingga menghancurkan seluruh hartanya.
  3. Orang yang benar-benar dalam kondisi kesusahan, sehingga kaumnya mengakuinya bahwa hidupnya susah.
  4. Menzhalimi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah adalah tempat meminta dan bersungkur menghinakan diri.
  5. Menzhalimi orang yang kita minta. Karena terkadang orang yang diminta memberi dengan rasa terpaksa.
  6. Menzhalimi dirinya sendiri. Yang seharusnya merendahkan diri kepada Allah, tapi dia menghinakan diri dihadapan manusia.
  7. Allah Ta’ala mengetahui segala sesuatu dari awal penciptaan sampai akhirnya.
  8. Allah telah menulis seluruh takdir
  9. Segala sesuatu tidak mungkin terjadi kecuali atas kehendak Allah Ta’ala.

Memahami Islam tidak cukup dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, namun harus sesuai dengan standar pemahaman Rasulullah dan para sahabatnya. Kenapa para sahabat? Karena mereka adalah generasi yang menyaksikan al-Qur’an diturunkan. Ketika tidak ada tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an, maka kembalikan tafsir tersebut kepada as-Sunnah, ketika tidak ada maka dengan perkataan sahabat, kalau tidak ada baru dengan bahasa arab. Ada metodologi tersendiri dalam memahami al-Qur’an, bukan sembarang pemahaman.

Kalau seseorang diberkan kesempatan atau ruang yang longgar, tanpa batas dan kaidah maka akan terjadi kesesatan dalam memahami Islam. Memang yang dinukil adalah al-Qur’an dan sunnah Rasulullah, tapi menurut versi siapa? Seseorang akan menafsirkan tanpa melihat bagaimana Rasulullah memahami ayat atau hadits tersebut. Karena ada sebagian kelompok yang menisbatkan dirinya sebagai sufi mengatakan bahwa, dalam kondisi tertentu seseorang bisa keluar daripada syariat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tentunya ini adalah keyakinan yang keliru.

Beberapa Faidah dari Belajar Hadits

Ketika kita membaca hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, kita menyambung kata Rasulullah dengan shalawat kepadanya.

Imam khatib al Baghdadi berkata: Abu Nu’aim menyampaikan kepada kami: “fadhilah bershalawat kepada Nabi tidak kami ketahui kecuali dari para ahli hadits.”

Imam Ats Tsaury berkata: “Andaikan belajar hadits tidak ada faedahnya melainkan hanya mendapatkan keutamaan shalawat maka itu sudah cukup.”

من صلى عليّ صلاة واحدة صلى الله عليه عشر صلوات وحطّت عنه عشر خطيئات ورفعت له عشر درجات

“Barangsiapa bershalawat atasku sekali, Allah akan bershalawat padanya sepuluh kali, dihapuskan darinya sepuluh kejahatan, dan diangkatlah ia sepuluh derajat,” (Hadits riwayat Imam At Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh al Albani)

فقد روي عن عدد من الصحابة، منهم -بالإضافة إلى ابن مسعود- زيد بن ثابت ، ومعاذ بن جبل، وجبير بن مطعم، وأنس وأبو الدرداء.. ولفظه، كما في الترمذي عن زيد بن ثابت قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: نضر الله امرأً سمع منا حديثا فحفظه حتى يبلغه غيره، فرب حامل فقه إلى من هو أفقه منه، ورب حامل فقه ليس بفقيه. قال الترمذي: حديث حسن.

Dari Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu berkata: saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semoga Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengarkan hadits, lalu menghafal dan menyampaikannya pada orang lain. Betapa banyak orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faham darinya. Dan betapa banyak orang yang membawa fiqih namun dia bukan seorang yang faqih.” (HR. Tirmidzi, beliau berkata: Hadits Hasan)

Hadits ini mengisyaratkan akan keutamaan menyampaikan hadits. Karena barangkali orang yang mendengar hadits itu bisa jadi seorang yang faqih dan tidak faqih. Bisa jadi pembawa hadits tadi menghafal dan menyampaikan suatu hadits kepada orang yang lebih faqih darinya, sehingga bisa mengambil kesimpulan dari hadits tersebut apa yang tidak tidak dipahami oleh pembawa hadits. Atau ia menyampaikan hadits kepada orang yang lebih rendah tingkat pemahamannya daripada dirinya. Maka inilah yang dimaksud dengan faedah menyampaikan hadits kepada orang lain.

Tulisan ini akan membahas sebuah hadits:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف، وفي كل خير، احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجز، وإن أصابك شيء فلا تقل: لو أني فعلت كان كذا وكذا… ولكن قل: قدر الله وما شاء فعل، فإن لو تفتح عمل الشيطان. رواه مسلم.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mukmin yang kuat (imannya) lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah (imannya). Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithan.” (HR. Muslim) [Muslim: 47-Kitab Al Qodar, An Nawawi –rahimahullah- membawakan hadits ini dalam Bab “Iman dan Tunduk pada Takdir”]

Banyak orang mengira bahwa yang dimaksud orang beriman yang kuat dalam hadits ini adalah orang yang kuat badannya. Padahal zhahir hadits menunjukkan Al Qowi adalah sifat dari Al Mu’min. Maka kuat yang dimaksud dari hadits ini adalah kuat imannya. Maka hadits ini adalah dalil bahwa iman itu bertingkat-tingkat.

Beberapa Faedah dari Hadits di Atas:

Orang mukmin itu berbeda-beda derajatnya antara yang satu dengan yang lain. Sehingga para ulama’ mengatakan bahwa iman itu bertingkat-tingkat.

عن ابى ذر رضى الله عنه، عن النبي قال: ( الإيمان بضع وسبعون أو بضع وستون شعبة: فأفضلها قول لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق ، والحياء شعبة من الإيمان ) متفق عليه

Dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi waasallam bersabda: “Iman itu ada 70 atau 60 sekian cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan ‘laa ilaha illallah’ (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, dan sifat malu merupakan bagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama’ juga menyatakan bahwa “iman itu bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.” Maksudnya adalah iman itu tidak bisa dilepaskan dari amal ibadah. Namun sebagian orang mengatakan bahwa amal ibadah tidak ada kaitannya dengan iman, iman adalah keyakinan saja, maka ini adalah keyakinan ahli bid’ah. Karena keyakinan ahlussunnah adalah iman mencakup keyakinan dalam hati, ucapan dengan lisan dan beramal dengan anggota badan. Sehingga ketika seseorang banyak beramal shalih maka imannya akan naik, begitu juga sebaliknya jika semakin banyak ia mengerjakan maksiat maka imannya akan turun atau berkurang.

Ketetapan bahwa Allah Ta’ala memiliki sifat cinta

Jangan sampai kita keliru dalam memahami asma’ dan sifat Allah Ta’ala, karena kita adalah hamba yang dituntut untuk beribadah kepada Allah semata. Tapi terkadang kita tidak mengenal dan memahami asma’ dan sifat Allah. Aqidah ahlus sunnah wal jama’ah dalam memahami asma’ dan sifat Allah adalah menetapkannya sebagaimana tersebut dalam nash, tanpa harus menolak atau meniadakan, mena’wilkan, atau memisalkan.

Misalkan menolak; Allah Ta’ala mempunyai sifat “mendengar.” Mereka menolaknya dengan mengatakan “jika kita menetapkan sifat mendengar bagi Allah berarti kita menyamakan Allah dengan makhluk”, tidak demikian. Karena kesamaan nama tidak menuntut kesamaan hakekat. Seperti: “kaki”, tentunya  antara kaki gajah dan kaki semut berbeda, apalagi sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya.

Kemudian ada yang menakwilkan sifat Allah yang turun ke langit dunia dengan mengatakan bahwa yang turun bukanlah Allah Ta’ala, namun rahmat-Nya. Karena tidak mungkin Allah turun ke langit dunia, sebab secara logika tidak masuk akal.

Jadi, ayat-ayat yang berupa sifat Allah, satu sisi bisa kita pahami dan satu sisi tidak kita pahami. Sisi yang bisa kita pahami adalah maknanya. Misalnya “Allah turun”, secara bahasa hal ini jelas bisa kita pahami, tapi hakekat bagaimana Allah turun,  itu bukan ilmu kita. Kita tetapkan maknanya tapi tidak menetapkan tata caranya karena Allah Ta’ala tidak mengabarkan. Dan hal itu juga diluar kemampuan kita.

Begitu juga dengan sifat cinta Allah kepada mukmin yang kuat imannya dalam hadits di atas. Cinta yang dimiliki Allah tentunya tidak seperti cinta yang dimiliki makhluk. Hal ini Allah tegaskan dalam surat Asy Syura: 11

“……tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat.” (QS. Asy Syuuraa: 11)

Bersemangat atau tamak dalam perkara yang bermanfaat

Syaikh Utsaimin rahimahullahu mengatakan bahwa kemanfaatan dalam hadits di atas adalah manfaat yang bersifatnya duniawi dan ukhrawi.

“………..dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185).

Ayat ini bukan berarti melarang umat Islam untuk bekerja atau berusaha mencari dunia, bahkan sebaliknya Islam adalah agama yang sempurna. Selain memerintahkan umatnya untuk konsentrasi kepada akhirat juga jangan sampai melupakan hal-hal yang berhubungan dengan duniawi.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al Qashash: 77)

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Al Jumu’ah: 10)

Terlepas dari perbedaan pendapat tentang perintah dalam ayat ini, apakah wajib atau mubah. Namun pada hakekatnya Allah memerintahkan untuk mencari karunia Allah, setelah ditunaikannya shalat.

Bahkan dalam surat An Nisa’ ayat 100 disebutkan:

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An Nisaa’: 100)

Artinya ketika kondisi agama kita dalam suatu tempat tertekan, maka kita boleh pindah ke tempat lebih nyaman dalam beribadah, ketika di suatu tempat ekonomi kita tertekan dan susah maka boleh mencari tempat lainnya, niscaya Allah akan memberikan yang lebih baik karena bumi Allah ini luas. Sebagai muslim memang harus berusaha. Bahkan dengan bekerja dan berusaha kita dapat melaksanakan syari’at Islam yang tidak dapat ditegakkan kecuali dengan harta, seperti; zakat dan berhaji. Islam juga menyukai seseorang yang berusaha dan tidak meminta-minta kepada orang lain.

“Hendaklah seorang mengambil talinya kemudian mengikat kayu bakar dengannya, lalu dipikul dan dijualnya, dengan itu Allah menjaga kehormatannya, maka hal itu lebih baik daripada meminta-meminta kepada manusia yang terkadang orang memberinya dan tidak.”

Dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan bahwa: “Orang yang selalu meminta kepada manusia tanpa ada suatu dasar yang jelas, maka pada hari kiamat ia akan datang dan di wajahnya tidak ada sekerat daging.”

Dalam riwayat imam Ahmad juga disebutkan: “barangsiapa yang meminta-minta tanpa dasar kefakiran maka seakan-akan ia memakan bara api.”

Dari hadits-hadits di atas para ulama’ menyebutkan bahwa hukum meminta-minta kepada orang lain tanpa suatu kebutuhan adalah haram. Kecuali 3 golongan yang dibolehkan:

Selaku muslim kita harus tamak dalam hal-hal yang berhubungan dengan akhirat dan dunia kita, jangan sampai kita menjadi umat yang meminta. Karena seorang yang meminta-minta itu hina. Ibnu Qayyim rahimahullahu berkata: Orang yang meminta-minta pada dasarnya telah melakukan 3 kezhaliman:

Meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala

Ibnu Qayyim rahimahullahu menyatakan bahwa ibadah tidak akan sempurna kecuali dengan meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala. Hal ini menunjukkan ketundukan dan kerendahan diri kita selaku hamba Allah. Dan apapun yang kita lakukan dan dapatkan tidak lepas dari campur tangan Allah Ta’ala, baik yang berkaitan dengan ibadah maupun selain ibadah.

Jangan lemah

Maksudnya seorang yang telah mendapatkan kebaikan dan telah meminta pertolongan kepada Allah, terkadang ia bisa lemah. Misalnya seorang telah berazam untuk tahajjud tiap malam meskipun hanya dua raka’at, malam ini ia shalat tahajjud, malam berikutnya tidak, selanjutnya shalat tahajjud lagi namun selang seminggu tidak shalat tahajjud, inilah yang dinamakan dengan kelemahan. Maka dalam beramal jangan pernah lemah, mintalah pertolongan kepada Allah untuk selalu istiqamah, karena sebaik-baik amal adalah yang kontinyu walaupun amal itu sedikit.

Jika tertimpa suatu musibah jangan berkata: “Seandainya aku lakukan demikian dan demikian, tentu tidak akan terjadi hal begini.” Akan tetapi katakanlah: “Ini sudah jadi takdir Allah.” Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi, dan perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithan.

Misalnya anda menaiki sebuah mobil, kemudian ada 2 jalur pilihan, ternyata anda mengambil jalur yang terkena macet, lalu anda berkata: andaikan saya lewat jalur yang satunya, pasti saya tidak akan terlambat ke kantor. Ucapan seperti ini tidak diperbolehkan karena pada dasarnya ucapan ini akan membuka pintu syaithan. Hal ini ditujukan untuk hal yang telah terjadi, adapun sesuatu yang belum terjadi maka tidaklah mengapa. Karena jika sesuatu telah terjadi lalu diungkapan dengan rasa penyesalan dan seakan-akan mengingkari takdir, disitulah ada kecacatan dalam keimanan. Seharusnya ketika mendapatkan sesuatu musibah atau hal yang tidak menyenangkan maka hendaknya kita yakini sebagai takdir Allah Ta’ala.

Karena kesabaran itu mencakup menahan hati, lisan dan anggota badan dari hal-hal yang menjurus pada pencacatan iman, khususnya iman kepada takdir Allah Ta’ala. Hadits yang menyebutkan bahwa jika ada keluarga yang meninggal, kemudian ahli warisnya meratapinya dengan tangisan berlebihan, memukul pipi, atau dengan menyobek-nyobek baju dan sebagainya adalah sebagai contoh bagi orang yang tidak rela dengan ketentuan Allah Ta’ala. Ini adalah misal bukan pembatasan tingkah laku. Maksudnya, ketika seorang mendapatkan musibah, ia membanting gelas atau piring dan sebagainya, bisa jadi ia terkena ancaman Rasulullah bahwa ia bukan termasuk golongannya.

Lalu apa yang harus dilakukan jika terkena musibah? Hendaknya seseorang mengucapkan: “ini adalah takdir Allah, dan apa yang dikehendakiNya pasti akan terjadi.” Yakinlah segala sesuatu pasti ada hikmahnya, baik hikmah itu bisa kita tangkap atau tidak bisa kita tangkap.

Terkait dengan takdir kita harus meyakini beberapa hal:

Wallahu Ta’ala a’lam…

Sumber

http:// darussalam- online. com/kajian/ahad-subuh/keutamaan-menghafal-hadits/

Komentar yang Sesuai dengan Topik Menggunakan Bahasa Sopan, Kami sangat Hargai.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s