Alasan Sebagian Dai Salafi ‘Ikut Bersuara’ Bab Pemilu dan Capres di Indonesia

Bismillah, walhamdulillah, was sholatu wassalamu ala rosulillah…

Dengan penuh hormat, penulis susun tulisan ini, dengan harapan semoga bermanfaat bagi Kaum Muslimin semuanya… Tidak ada sedikitpun niat untuk saling menyudutkan. Bahkan dengan tegas penulis katakan kepada Al-Ustadz yang tulisannya saya tanggapi: “Uhibbuka Fillah” (Aku mencintaimu karena Allah). Tulisan ini, tidak lain hanyalah bentuk usaha untuk saling menasehati di antara Kaum Muslimin.

Penulis benar-benar memahami perkataan al-Ustadz al-Fadhil:

“Tulisan ini tidak membahas apa yang diistilahkan oleh sebagian ikhwah dengan masalah ikhtilaf ijtihadi antara para ulama yang membolehkan atau tidak membolehkan ikut dalam pemberian suara ketika pemilu. Namun masalahnya sekarang lebih dari itu semua, melampaui batas, melewati garis dan telah masuk ke dalam tanah larangan (kubangan politik). Dakwah Salafiyah dan kita pun berlepas diri darinya”.

Namun, tetap saja penulis susun tulisan ini, karena banyak yang memahami dari tulisan tersebut, tidak bolehnya kita memberikan hak suara kepada calon pemimpin yang terbaik dari yang ada bagi Islam dan Kaum Muslimin.

Berikut tanggapan penulis terhadap artikel “WAHAI SALAFI, INGINKAH ENGKAU MASUK KUBANGAN POLITIK”.

Pada hari-hari seperti ini kita mendapati pembahasan seputar pemilu 2014 sebagai pembahasan terhangat diberbagai media massa dan media elektronik. Berbagai elemen masyarakat banyak disibukkan dengannya, mulai dari pakar politik hingga orang awam. Pembahasan tersebut seolah menjadi menu dan bahan obrolan yang sangat amat mengasyikkan hingga menyita banyak waktu, tenaga, pikiran bahkan harta mereka. Tapi ini tidak asing bagi mereka dan di dalam dunia mereka.

Tanggapan:

Sudah lumrah apabila pembahasan seputar pemilu 2014 menjadi pembahasan terhangat di berbagai media dan di seluruh elemen masyarakat, karena itu memang menyangkut maslahat mereka, baik sebagai rakyat maupun sebagai calon pemimpin, baik dalam hal dunia mereka, maupun dalam hal agama mereka. Siapa yang ragu dengan pengaruh seorang pemimpin terhadap ekonomi, agama, dan sisi kehidupan lainnya.

Namun yang sangat disayangkan, penyakit di atas menular pula ke dalam diri orang-orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai pengikut Dakwah Salafiyah yang murni dari kotoran politik ini atau mungkin ada juga yang sebagai penyusup ke dalamnya tanpa disadari. Kita lihat sebagian mereka berdebat kusir tentangnya di majlis-majlis obrolan, FB,WA dan internet.

Kalau kita melihat dari sisi yang positif, tentu kita akan melihat keadaan mereka itu merupakan pertanda PEKA dan pedulinya mereka terhadap keadaan yang berkembang di sekitarnya, dan ini bukanlah penyakit. Wallohu a’lam.

Politik tidak semuanya kotor, karena politik tidaklah hanya berada di negeri pancasila, atau negeri demokrasi… Politik juga ada dalam kerajaan dan bentuk pemerintahan lainnya… Jika politik semuanya kotor, lalu mengapa para ulama kibar, sekaliber Syeikh Binbaz, Syeikh Albani, Syeikh Utsaimin, Mufti Negara Saudi, dll memfatwakan bolehnya menyumbangkan suara? Bahkan sebagian dari mereka sampai mewajibkannya.

Ketika mereka membolehkan untuk memilih salah satu calon, bukankah konsekuensinya harus mengetahui siapa yg paling berhak dipilih untuk kemaslahatan Islam dan Kaum Muslimin? Dan tentunya ini membutuhkan obrolan dan diskusi, dan juga langkah menyadarkan orang lain agar memilih yang terbaik bagi Islam dan Kaum Muslimin.

Memang debat kusir tidak dibolehkan, tapi tidak semua diskusi tentang siapa calon yang paling berhak dipilih menjadi debat kusir, wallohu a’lam.

Sebagian lagi bahkan melakukan apa yang diistilahkan dengan kampanye hitam untuk mendukung salah satu capres dan menjatuhkan yang lainnya.

Kita tidak memungkiri adanya kampanye hitam, dan itu tidak dibolehkan. Tapi yang perlu digaris-bawahi di sini adalah tidak semua tindakan menyebar berita negatif tentang salah satu calon menjadi kampanye hitam. Tapi dikatakan kampanye hitam bila beritanya bohong. Adapun bila beritanya benar, maka namanya kampanye negatif, dan ini masuk ghibah yang dibolehkan karena adanya maslahat yang besar bagi Islam dan Kaum Muslimin. Wallohu a’lam.

Setiap hari menyeru umat untuk masuk kandang politik. Sebagian lagi bahkan menulis “Mungkinkah seorang salafi masuk dalam parlemen ? Jawabnya mungkin”. Bahkan dia juga mengatakan “Mungkinkah Salafiy membentuk partai?”Jawab saya : “Mungkin”. Na’udzu billahi min dzalik. Sebagian lagi meramal dengan ramalan yang batil yang muncul dari pemikiran yang kerdil dan picik “Jika … jadi presiden bisa jadi salafi akan dilarang sebagaimana Ikhwanul Muslimin dilarang di Mesir”.

Tentang setiap hari menyeru umat untuk masuk kandang politik, maka ana setuju, hal itu tidak seharusnya dilakukan.

Tentang mungkinkah seorang salafi masuk dalam parlemen? Maka mayoritas Ulama Kibar di zaman ini membolehkan, seperti Syeikh Binbaz, Syeikh Utsaimin, dan yang lainnya. Sehingga ini bukanlah aib bagi orang yang mengatakannya. Jika ada yang menjatuhkan orang yang berpendapat seperti ini, maka silahkan mereka menjatuhkan ulama-ulama yang telah berpendapat seperti itu. Jika mereka mengatakan: “kita tidak boleh bertaklid”, kita katakan sebenarnya mereka juga bertaklid kepada ulama yang mereka anut. Lalu apa salahnya bila kita mengikuti dalil-dalil para ulama yang membolehkannya?

Mungkinkah salafi membentuk partai? Penulis juga melihat, memang salafi sekarang ini tidak perlu membentuk partai, wallohu a’lam.

Tentang “ramalan”, penulis yakin, orang tersebut bukan bermaksud meramal, tapi hanya “mengutarakan adanya kemungkinan itu” dan ini bukan ramalan, hal ini sebagaimana kita mengatakan “kita harus amputasi kakinya, karena bisa jadi penyakitnya akan menular ke anggota badan yang masih sehat”. Tentunya sangat jelas perbedaan meramal dan mengutarakan kemungkinan.

Apakah ini yang diinginkan oleh para ulama yang berpendapat bolehnya ikut pemilu karena untuk memilih yang lebih ringan madharatnya???!!! Apakah ini yang juga difatwakan dan dipratekkan oleh para ulama tersebut???!!! Ataukah ini telah keluar batas dari fatwa mereka ???!!! Ataukah mereka sudah menganggap diri sebagai ulama yang siap berijtihad setiap saat???!!![3] Apakah karena gelar atau popularitas yang tinggi hingga mereka lupa diri???!!! Laa haula wa laa quwwata illa billahi.

Yang diinginkan oleh para ulama adalah agar lahan yang ada, tidak menjadi lahan yang kosong dari orang-orang baik yang memperjuangkan Islam dan Kaum Muslimin.

Cobalah dipikirkan bila kita menyerukan Kaum Muslimin agar tidak masuk parlemen, dan mereka semua tidak masuk parlemen, sedang orang-orang kafir berebut masuk ke dalamnya, siapa yang akan mengisi parlemen tersebut? tentunya murni orang-orang kafir. Relakah kita dengan kenyataan ini?

Jika dikatakan: “Kita kan hanya menyeru kepada salafiyyin”, maka kita katakan: Apakah sesuatu yang buruk untuk salafiyyin dalam pandangan Allah bisa menjadi baik bagi Kaum Muslimin yang bukan salafi?

Jika ada yang melampui batas, maka itulah yang seharusnya diingkari.

Adapun berijtihad maka ana kira kita semua menganggap hanya menjalankan fatwa ulama berdasarkan dalilnya, tidak lebih dari itu. Dan kita semua menginginkan kebaikan Islam dan Kaum Muslimin. Kesalahan pasti ada di setiap diri masing-masing. Tidak ada yang maksum selain Nabi -shollallohu alaihi wasallam-.

Bagi yang sudah melampui batas, baik dari orang yang menganjurkan ikut pemilu maupun orang yang melarang ikut pemilu, maka hendaklah memperbaiki dirinya, wallohul musta’an.

Inilah fenomena yang amat memprihatinkan sekarang ini dalam Dakwah Salafiyah di negeri ini. Hari-hari yang dulu sejuk dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta atsar salafushshaleh berganti dengan isu-isu politik yang panas, kotor dan keji. Pembahasan tauhid Asma’ Wa shifat terkalahkan dengan permainan nama-nama capres.

Sekali lagi kepekaan salafiyyin dengan perkara pemilu tahun ini, bukanlah keburukan, asalkan tidak melampui batasan syariat, dan itu bukan berarti mereka meninggalkan Alqur’an, Sunnah, serta Atsar Salafus Sholeh, karena bagi mereka “menyadarkan masyarakat untuk memilih pemimpin yang baik Islam dan Kaum Muslimin” adalah wujud penerapan Alqur’an, Assunnah, dan Atsar para Salafus Sholeh, dan tindakan itu menurut mereka masuk dalam bab nasehat untuk Kaum Muslimin.

لِمِثْلِ هَذَا يَذُوْبُ القَلْبُ مِنْ كَمَدٍ * إِنْ كَانَ فِيْ القَلْبِ إِسْلَامٌ وَإِيْمَانُ

Karena inilah hati meleleh dengan kesedihan * Jika dalam hati itu masih ada keislaman dan keimanan

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)”. [Ali–Imran: 8]

Inilah fenomena baru yang menyusup dalam Dakwah Salafiyah di negeri yang kita cintai ini -semoga Allah menganugerahkan pemimpin yang terbaik bagi Islam dan kaum muslimin di negeri ini-.

Berdoa agar Allah menganugerahkan pemimpin yang terbaik bagi Islam dan Kaum Muslimin untuk Indonesia, adalah sesuatu yang sangat mulia.

Namun berdoa saja dengan meninggalkan usaha lahiriah juga kurang. Dan karena di negeri kita pemimpin dipilih melalui pemilu, maka mau tidak mau kita harus berusaha memilih pemimpin dengan cara memberikan suara lewat pemilu, karena tidak ada USAHA LAHIRIAH yang lain selain itu. Harusnya kita berusaha dan berdoa untuk pemimpin yang baik bagi Islam dan Kaum Muslimin. Tanyakan kepada diri sendiri, bolehkah kita berdoa meminta rezeki tanpa usaha lahiriah (bekerja misalnya), bolehkah kita meminta anak tanpa usaha lahiriah (menikah misalnya), dst?!

Bahkan salah satu saudara kita hafidzahullahu berkata : “Ini merupakan fitnah besar selama Dakwah Salafiah di Indonesia. Ini masalah besar umat, kok beraninya beberapa ustadz berfatwa”. Tidakkah mereka takut menjadi orang-orang yang mencontohkan dalam Islam jalan kejelekan hingga dia menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang mengikutinya ?! Nas’alullaha As-Salaamah wa A’fiyah.

Lebih tepat bila dikatakan “pernyataan sikap” terhadap partai tertentu, dan itu berdasarkan penilaian yang tampak dari luar, serta tidak mengikat sama sekali, tidak ada paksaan sama sekali, dan tidak ada sikap fanatik terhadap partai tersebut, karena yang dilihat bukan partainya, tapi maslahat Islam dan Kaum Muslimin. Oleh karenanya, bila ada partai lain yang lebih baik bagi Islam dan Kaum Muslimin, tentunya itu yang akan menjadi pilihannya.

Memang penilaian itu ada kemungkinan salahnya, tapi yang mereka inginkan adalah benarnya penilaian itu. Dan dalam menilai sesuatu, kita tidak dibebani kecuali yang tampak dari luar saja dalam pandangan kita, tidak ada yang tahu hakekat sesuatu, kecuali Allah semata. Sehingga apabila penilaian itu salah, maka semoga Allah mengampuni, sebaliknya bila benar, semoga Allah memberkahi. Amin.

Wahai saudaraku, simaklah dan renungkanlah nasehat seorang ulama rabbani, murid sejati ahli hadits abad ini (Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani), yang kokoh dalam manhaj salafi meski badai dan topan terus menghujani. Inilah tetesan-tetesan nasehat Syaikh Ali Bin Hasan Al-Halaby Al-Atsari As-Salafi –semoga Allah menjaga beliau dan tetap mengokohkan beliau di atas kebenaran sampai akhir hayat beliau nanti-. Mudah-mudahan hati-hati yang kering karena suhu politik yang terus membakar dapat tersirami. Semoga petuah-petuah ini dapat membersihkan noda-noda politik yang telah menempel dalam pikiran dan hati sanubari. Dan semoga dapat mengembalikan mereka yang telah atau hampir jatuh dalam kubangan politik kemunafikan nan keji.

Penulis juga berdoa: “Semoga Allah mengembalikan mereka yang telah atau hampir jatuh dalam kubangan politik kemunafikan nan keji”.

Dan perlu diingat di sini, bahwa memberikan suara dalam pemilu untuk memilih pemimpin yang dinilai baik bagi Islam dan Kaum Muslimin -sebagaimana difatwakan ulama-ulama besar Ahlussunnah di zaman ini-, bukanlah tindakan menjerumuskan diri dalam kubangan politik, karena itu bukan tindakan melampaui batas dalam berpolitik, wallohu a’lam.

1. Wahai para dai yang menyeru ke jalan Allah, jagalah persatuan (di atas manhaj salafi). Dan janganlah kalian kotori dengan masuk ke dalam kubangan politik di zaman ini yang penuh warna-warni (politik Bunglon).

Masuk kubangan politik berarti tindakan melampaui batas dalam berpolitik, karena sebagaimana telah lalu tidak semua yg berbau politik adalah keburukan, oleh karenanya ada istilah “siyasah syar’iyyah”.

2. Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: Apabila politik telah masuk ke dalam diri sekelompok manusia maka dia akan lebih banyak merusak daripada fanatik madzab (fiqih). Karena politik selalu membutuhkan fleksibilitas dan permainan (selalu berubah-rubah alias bunglon).

Yang dimaksud beliau adalah “politik yang kotor”, yang melampaui batas syariat, yang menimbulkan sikap fanatik buta, dst…

3. Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullahu berkata : Hizbiyah (fanatik partai) merupakan sebab utama kebodohan kaum muslimin, mereka sibuk dengannya dan meninggalkan ilmu yang bermanfaat.

Pesan Nasehat ini, jelas berkaitan dengan “Hizbiyah (fanatik buta terhadap kelompok/partai)”.

4. Syaikh Bakar Abu Zaid rahimahullahu berkata : Dikala kaum muslimin telah meninggalkan fanatik terhadap madzhab fiqih, partai-partai itu meniupkan fanatik dari sisi lain yang lebih parah pengaruh dan dampaknya.

Pesan Nasehat ini juga jelas berkaitan dengan “tindakan fanatik buta terhadap partai tertentu”.

5. Ketahuilah wahai saudaraku -semoga Allah meluruskan langkahmu-, bahwa seorang dai salafi di dalam mengemban Dakwah Salafiyah yang diberkahi ini, yang berdiri di atas pondasi agama ini seperti memerangi fenomena khurafat, syirik, bid’ah, memberantas kebodohan dan menebarkan ilmu syar’i… Dia tidak memiliki selain pondasi tersebut, dia menegakkannya, berdiri di atasnya serta menyeru kepadanya. Baik dia sebagai seorang penuntut ilmu, pengajar, seorang alim dari awal hingga akhir… Inilah yang dilakukan oleh semua dai salafi… yang hasilnya adalah -dengan taufik dari Allah- apa yang telah Allah janjikan dalam firman-Nya:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.” [An-Nuur/24:55].

6. Wahai para da’i yang shadiq (jujur)… Wahai para penuntut ilmu yang amanah, ini (ilmu dan dakwah) adalah medan kalian maka jangan kalian tinggalkan. Inilah dakwah kalian maka jangan kalian campakkan…

Penulis sangat setuju dengan pesan-pesan ini, jangan sampai kita meninggalkan ilmu dan dakwah… Dan memberikan suara di pemilu untuk memilih pemimpin Indonesia yang baik bagi Islam dan Kaum Muslimin bukanlah tindakan meninggalkan ilmu dan dakwah, wallohu a’lam.

Tidaklah aku ingin mengucapkan kepada setiap yang menyelisihi nukilan-nukilan yang dibangun di atas kaidah dan ketentuan serta pondasi ini melainkan:

أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ

“Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik ?(QS.Al-Baqarah : 61)

Alhamdulillah penulis, tidak menyelisihi nukilan-nukilan di atas, semoga Allah selalu memberikan kita semua taufiq dalam meniti jalan-Nya yang lurus, amin.

7. Sesungguhnya masuk ke dalam kancah politik dengan segala bentuk dan lika-likunya adalah menjerumuskan diri ke dalam penyerupaan kepada perjudian.

Penulis kurang setuju dengan kata “dengan segala bentuk dan lika-likunya”, karena tidak semua yang dikatakan politik itu buruk, sebagaimana telah lalu penjelasannya. Ada istilah “siyasah syar’iyyah”, dan ada pula fatwa-fatwa ulama tentang anjuran memberikan suara di pemilu, wallohu a’lam.

8. Wahai saudaraku, dai yang menyeru ke jalan Allah, jika engkau jujur pada dirimu sebelum kepada yang lain, jauhkanlah dirimu dari perjudian yang berbahaya ini. Jangan engkau korbankan dakwah ini untuk menjalin kesepakatan (dengan partai tertentu). Jangan engkau menjatuhkan diri dari ketinggian ke dalam terowongan.

Pasnya pesan ini, bagi mereka yang masuk dalam politik kotor dan yang melanggar batasan syariat dlm berpolitik. Bagi yang hanya menyumbangkan suara, tentunya bukan sedang mendekatkan diri dengan perjudian yg berbahaya, atau mengorbankan dakwah ini, atau menjatuhkan diri, wallohu a’lam.

9. Barangkali mereka yang menginginkan untuk masuk ke kubangan politik (Hizbiyah) bisa menerima ucapan seorang dai tersohor di Mesir sekarang ini dan dia termasuk yang menyuarakan Dakwah Salafiyah –Semoga Allah memberi hidayah kepada kita, kalian dan dia ke jalan keselamatan-. Ucapan tersebut dia sampaikan di hadapan banyak khalayak beberapa saat yang lalu (dengan nada penyesalan). Dan dia telah menancapkan kedua kakinya ke dalam kubangan politik serta memobilisasi massa hingga ratusan ribu orang bahkan jutaan manusia… dia berkata : Laknat Allah atas politik.

Ya, Laknat Allah atas politik yang kotor.

10. Seolah-olah mereka (yang telah terjerumus ke dalam kubangan politik dan muak serta menyesalinya) mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh pendahulu mereka (filosof/ahli kalam) : Barangsiapa yang mengalami apa yang aku alami maka dia mengetahui apa yang telah aku ketahui.

Ini, sama halnya dengan yang sebelumnya, hanya pas bila maksudnya adalah tentang politik yang melampaui batas.

11. Wahai orang-orang yang berakal -semoga Allah memberikan taufik kepadaku dan kepada kalian untuk meraih ridho-Nya- tidakkah kalian mengambil ibrah dari pengalaman mereka dan meraih manfaat dari wejangan ilmiah dan amaliyah (teori dan praktek) dari mereka. Mungkin wejangan tersebut bisa mencegah kalian dari terjatuh ke dalam kejelekan dan bala’ yang cepat datang seperti wabah penyakit ?! Dan tidaklah kalian –semoga Allah mengampuni dosaku dan kalian- mengamalkan wasiat seorang sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu yang telah berkata : “Orang yang berbahagia adalah yang dapat mengambil ibrah dari orang lain”. [HR.Muslim 2645]

Berapa kali kita mengatakan sebelum dan sesudah ini : Barangsiapa yang tidak bisa menerima dalil maka hendaklah dia bisa menerima kenyataan yang pahit ini (untuk segera bertaubat dari kubangan politik).

Penulis setuju, karena yang dimaksud “Kubangan politik” adalah “politik yang melampaui batas”.

12. Kewajiban kita yang harus terus dijaga -meski ada yang enggan dan ada yang suka- adalah menjaga Islam dengan segala kebersihan dan kesuciannya serta di atas manhaj salafi yang haq dengan penuh kejelasan dan transparan. Alangkah indahnya panggilan hati dan pena Al-‘Allamah As-Salafi Al-Jazaairi Muhammad Al-Basyiir Al-Ibrahimi rahimahullahu yang beliau tuangkan sekitar setengah abad yang lalu…”Aku wasiatkan kalian untuk menjauhkan diri dari partai-partai yang kemunculannya mendatangkan keburukan-keburukan dan orang-orangnya menyerang untuk mengkikis kebaikan dan ilmu… Sesungguhnya partai-partai ini seperti talang air. Dia mengumpulkan air keruh dan menuangkannya kemana-mana. Bukan air jernih yang dia kumpulkan dan bukan manfaat pula yang diperoleh.

Wahai para pemuda, raihlah ilmu dan ilmu ! Jangan engkau tertipu oleh para makelar politik yang meniup dalam talang air (meski berkedok salafi). Jangan engkau tertipu dengan para jurkam yang berteriak-teriak di lapangan kampanye. Janganlah engkau meninggalkan ilmu karena rayuan para komentator politik… Mereka semua adalah para pesulap yang menipu dan tukang sihir yang amat pendusta. Sesungguhnya kalian jika mengikuti ajakan mereka yang sesat dan bergabung dengan para penebar fitnah maka kalian dan negeri kalian akan rugi dan kalian akan menyesal pada suatu hari ketika manusia yang lain telah memetik buah hasil kebaikannya, namun tidak akan ada manfaat menyesal pada saat itu.” [Dalam kitab beliau ‘Uyuunu Al-Bashaair 350-351]

Penulis melihat, para dai memang seharusnya tidak menyibukkan diri dengan hal-hal yang menjadikan dia sibuk dengan selain ilmu dan dakwah. Sebagai seorang yang berilmu, hendaklah dia fokus menyebarkan ilmunya.

Dan jika datang saat-saat penting untuk mengutarakan pandangannya tentang seorang calon pemimpin, maka harusnya hal tersebut dia lakukan, agar Kaum Muslimin yang diserahi untuk memilih calon pemimpinnya tidak bingung menentukan pilihannya, karena itu juga merupakan bentuk menyebarkan ilmu pengetahuan yang ada padanya. Wallohu a’lam.

13. Wahai para penuntut ilmu, wahai para dai yang menyeru ke jalan Allah, aku rasa engkau tidak lupa dengan jihadnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu baik dari sisi ilmu, aqidah, manhaj di berbagai negeri semisal Mesir atau Syam. Beliau pernah berkata dari awal hingga akhir (hidup beliau) : “Aku adalah manusia agama bukan manusia (politik) negara”. Maka jadilah engkau seperti beliau.

Sangat tepat sekali pesan ini, jangan sampai kita menjadi negarawan yang tidak peduli dengan aturan syariat, tapi hendaklah kita menjadi agamawan yang selalu menyebarkan kebaikan dan menerapkannya. Bukan berarti ini larangan untuk menjadi negarawan yang patuh kepada syariat dan memperjuangkannya, wallohu a’lam.

Mudah-mudahan petuah-petuah beliau dan para ulama tersebut di atas bisa menerangi kegelapan hati mereka yang telah ternodai. Dan semoga Dakwah Salafiyah dan para pengibar benderanya kembali dan terus cerah bersinar di negeri ini tanpa terkotori.

Amin… Innahu Samii’un Qoribun Mujiiib.

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang Dia menyaksikannya”. [Qaaf: 37]

Ana ucapkan jazakallohu khoiron atas artikel beliau ini… semoga bermanfaat bagi mereka telah melampaui batas dalam berpolitik… amin.

Dan ana mohon maaf bila ada kata-kata yang tidak sopan atau tidak pantas. Yang benar adalah dari Allah semata, sedangkan apabila ada yang salah, itu dari diri penulis dan dari setan, sedang Allah dan rosul-Nya bebas darinya.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت, أستغفرك وأتوب إليك, والحمد لله رب العالمين.

Madinah, Sabtu 2 Sya’ban 1435 H – 31 Mei 2014 H. Sumber:http:// addariny. com/2014/06/01/kubangan-politik-politik-yang-melampaui-batas/

Komentar yang Sesuai dengan Topik Menggunakan Bahasa Sopan, Kami sangat Hargai.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s