Pahala Besar Seorang Muadzin dan Larangan Nyerobot Imam

Bumi Islam – Syaikh Dr. ‘Idan, seorang pakar aqidah, atau syaikh Dr. ‘Abdullah al-Habr, seorang pakar hadits, tak akan maju menjadi imam shalat walaupun diminta. Keduanya ataupun syaikh lain tahu bahwa di Qo-ah, ruangan yang dijadikan sbg masjid Lipia, memiliki jadwal imam tiap malam. Mereka, para imam, adalah mahasiswa yang tinggal di asrama dan ditunjuk oleh pengurus asrama.

Ini adalah bentuk ketawadhuan para syaikh walaupun mereka lebih berilmu. Inilah adab. Tidak sembarangan maju begitu saja untuk mengimami.

Beberapa tahun yang lalu, di masjid ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Mataram, Lombok, ketika sholat maghrib akan dimulai, seorang mahasiswa asing dari sebuah perguruan tinggi tiba-tiba maju menjadi imam tanpa ada yang menyuruh atau memintanya maju. Disitu padahal ada imam tetap.

Suaranya memang bagus dan merdu. Seusai sholat, seorang ustadz mengajaknya masuk ke sebuah ruangan dan menjelaskan perkaranya. Empat mata saja.

Seorang penuntut ilmu punya adab. Ilmu dan suara merdu tak serta merta menjadikannya nyelonong begitu saja maju tergesa-gesa menjadi imam apalagi dia adalah orang asing di suatu tempat atau masjid, terlebih masjid yang memiliki imam tetap.

Ini banyak terjadi. Biasanya pada mereka yang baru saja belajar dan menganggap dirinya pantas, bersuara bagus, ingin dipuji dan dikenal, dan lainnya.

Sebagai fawaid, para ulama berbeda pendapat apakah seorang imam lebih utama dibanding muadzdzin. Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin menjelaskan bahwa muadzdzin lebih berpahala dan utama dibanding imam.

الأذان من أفضل الأعمال، وهو أفضل من الإمامة، يعني أن مرتبة المؤذن في الأجر أفضل من مرتبة الإمام؛ لأن المؤذن يعلن لتعظيم الله وتوحيده والشهادة للرسول بالرسالة، وكذلك أيضاً يدعو الناس إلى الصلاة وإلى الفلاح في اليوم خمس مرات، والإمام لا يحصل منه ذلك، فإنه لا يسمع مدى صوت المؤذن جن ولا إنس ولا شيء إلا شهد له يوم القيامة، ولهذا كان الأذان مرتبته في الشرع أعلى من مرتبة الإمامة

“Adzan merupakan salah satu amal terbaik. Adzan lebih utama dari imam dengan makna bahwa kedudukan seorang muadzdzin, dari segi ganjaran, lebih tinggi dibandingkan dengan kedudukan imam. Ini disebabkan seorang muadzdzin mengumumkan ajakan menuju keagungan Allah, tauhid, dan syahadat Rasul tentang risalah kenabian.

Seorang muadzdzin juga menyeru manusia menuju salat dan kemenangan 5 kali dalam sehari. Seorang imam tidak mencapai hal ini. Semua jin, manusia dan segala sesuatu yang mendengar cakupan suara muadzdzin akan memberi kesaksian terhadap sang pengumandang adzan di hari kiamat. Oleh karena itu, kedudukan seorang muadzdzin dalam Islam lebih tinggi dari kedudukan imam.” (Diterjemahkan darihttps://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=635252029834692&id=413131848713379)

Akhirnya, seorang penuntut ilmu adalah orang yang beradab dan memuliakan ke-imam-an orang lain. Dia pula yang berhati-hati dari penyakit hati. Dia pula percaya bahwa tawadhu di balik ilmu menjadikan qalbu lebih syahdu.

______
Asrama LIPIA Jakarta, 26 Maret 2014.
-repost-

Komentar yang Sesuai dengan Topik Menggunakan Bahasa Sopan, Kami sangat Hargai.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s